VIII. PEMBINAAN KELUARGA DAN
YANG BERHUBUNGAN DENGAN ITU

Abbas dan Keluarga

          

Sebelum aku menguraikan kisah dalam bab ini, terlebih dahulu aku mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada para pihak yang kusebutkan dalam kisah ini, mungkin kisahku ini menyinggung perasaan ybs atau perasaan anak cucunya atau menyinggung kehormatannya, sekali lagi aku mohon maaf.
               Aku hanya ingin mengisahkan apa adanya yang dapat  kuingat yang pernah kualami dari pristiwa-pristiwa yang lalu; itupun menurut pandangan subyektifku. Saya sama sekali tidak bermaksud merendahkan atau menganggap enteng seseorang. Memang  kisahku dalam bab ini amat sensitif, karena menyangkut banyak orang yang mungkin ada diantara yang kusebutkan dalam kisahku ini merasa kurang pas bagi dirinya atau bagi anak cucunya. oleh sebab itulah disamping aku memohon maaf bagi mereka yang kurang berkenan dimuatnya nama-nama mereka atau nama orang tua atau nenek moyangnya; bab ini paling belakang kutulis serta dengan berbagai pertimbangan. Tetapi inilah fakta yang nyata dalam melengkapi kisahku ini, rasanya kisahku ini tidak lengkap kalau aku tidak mengungkapkannya.
 
          **Kalau kita berbicara tentang pembinaan keluarga, tentunya tidak akan terlepas dari awal pembentukan keluarga itu sendiri. Untuk membangun suatu keluarga, pastilah kita tidak akan terlepas dari pergaulan atau hubungan muda-mudi serta masa remaja. Karena masa remaja itulah yang akan menentukan jalan hidupku dalam pembinaan keluarga.

 

          Seperti telah kukisahkan sebelumnya masa kanak-kanakku kuhabiskan di desa, baik di Desa Pinang Belarik maupun di desa Arahan. Dan ketika menginjak remaja aku berada di kota kecil yang masih dipengaruhi oleh adat-istiadat desaku tadi. Tentunya akupun mengikuti semua yang biasa dilakukan oleh para remaja di daerahku.

            1.Ada suatu kebiasaan di kampung tempat tinggalku, pada khususnya dan di Kabupaten Lahat pada umumnya. Apabila telah menginjak usia belasan tahun, para ABG [Anak Baru Gede] mulai “renjeh”= mulai tertarik untuk bergaul dengan lain jenis dalam arti telah mulai mencari-cari pasangan hidup. Biasanya kalau laki-laki usia 13 tahun keatas dan kalau wanita 12 tahun keatas. Kebiasaan ini ada baiknya tetapi ada kelemahannya. Baiknya ialah ABG tersebut mulai dituntut untuk mulai mandiri, tidak cengeng dan mau bekerja keras untuk mencari bekal hidup dalam arti kata materiel seperti menakik para, berladang, berdagang, mencari ikan  dll; karena nantinya kalau dia sudah siap berumah tangga ABG ini harus sudah mempunyai mata pencaharian yang tetap.

         Kelemahannya ialah para ABG ini biasanya sudah malas untuk meneruskan sekolahnya, karena disamping waktunya dihabiskan untuk berusaha mencari rizki [ yang seharusnya belum waktunya dikerjakannya] juga kalau malam hari dihabiskan untuk bertandang dengan para remaja yang sebaya dengan dia.

            Memang pergaulan  muda-mudi dikampung dengan adat kebiasaan yang sudah turun temurun itu sangat menarik dan tidak membosankan.Akupun sebagai remaja yang hidup dan berdiam dikampung mengikuti kebiasaan ini dan merasakan betapa indah dan nikmatnya masa remaja itu. Masing-masing remaja baik putera maupun puteri bebas mencari teman yang sesuai dengan selera dan keadaan mereka, dalam istilah agama se-kufu dengan mereka. Para remaja putra bebas mau berkawan dengan gadis mana saja yang dianggap sepadan dengan dia sebaliknya remaja puteripun demikian pula. Para remaja putri dapat mengincer remaja putera yang datang bertandang ketempatnya yang silih berganti itu. Sebaliknya remaja putera dapat memilih remaja puteri yang di datangi
[ ditandangi]nya dari satu rumah kerumah lainnya yang ada remaja puterinya, karena para remaja puteri adalah tabu untuk menolak kedatangan remaja putera dari mana saja datangnya yang mau bertandang dengan maksud baik dan sopan. Walaupun remaja putera itu datangnya dari keluarga yang kurang mampu.Tetapi dalam mengikat janji tentunya remaja puteri bebas menentukan pilihannya yang sepadan dengannya.

         Pada masa “aku mulai renjih” = mulai ada ketertarikan dengan remaja putri, usiaku pada waktu itu antara 13 dan 14 tahunan [ Tahun 1950 s/53]; adat didaerahku memang sangat menguntungkan bagi para remaja baik putera maupun puteri. Remaja putera bebas pergi kedesa mana saja yang dia mau-i untuk melirik-lirik para remaja puteri untuk dijadikan kawan berbincang-bincang atau kawan ngobrol, sebelum mereka mengikat suatu janji. Pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh para remaja pada hari-hari jum’at atau hari libur atau pada hari adanya pesta perkawinan. Tetapi kalau malam hari dilakukan hampir setiap malam tanpa mengingat hari, mulai setengah delapan malam hingga jauh malam. Pada siang hari pada umumnya para remaja baik putera maupun remaja putri  hanya berkenalan, mempererat hubungan silaturahmi  serta saling menilai, karena pada siang hari lebih transparant, nampak keelokannya dan kecacatannya serta sifat-sifat peribadinya. Sedang pada malam hari disamping hal tersebut diatas,diikuti pula dengan pendekatan yang lebih akrab dalam menuju suatu perjanjian.

        Kalau seorang remaja putera, selanjutnya disebut “bujang” ingin berbicara serius dengan remaja puteri, selanjutnya disebut “gadis” umpamnya untuk memadu janji dan
lain-lain; maka sang bujang harus berbicara dengan gadis hanya berduaan saja: syaratnya ada sbb :
1.waktunya sudah agak malam, sekitar jam 21 keatas. Karena kalau masih sore hari sang gadis masih harus menerima tamu bujang-bujang lain secara bersama-sama.

2.Gadis yang akan diajak bicara itu punya kawan gadis lain yang bersamaan waktunya ditandangi oleh bujang. Sehingga bila gadis yang yang mau diajak bicara oleh kita tadi menemui kita , masih ada gadis lainnya yang menerima tamu bujang-bujang lainnya.

3.Bujang bicara diluar rumah umumnya ditundan atau diatas tangga, sedang gadis yang diajak bicara berada dalam rumah. Pada waktu mereka berbicara  dibatasi  oleh daun pintu. Pintu dibukakan sedikit oleh sang gadis sehingga suara kedua belah pihak jelas terdengar  walau mereka berbicara berbisik-bisik.
Disamping itu daun pintu itu merupaka senjata bagi sang gadis bila diganggu oleh sang bujang saat mereka berbicara. Bila tangan sang bujang berbuat tidak senonoh maka daun pintu itu ditutup oleh sang gadis, hingga dapat menjepit tangan sang bujang.

        Biasanya sang bujang pada waktu mau bericara pada sang gadis yang sedang ditandangi bujang-bujang lain, dia memanggil dengan memeberi kode dengan bunyian tangan atau ketokan. Dan setelah berkomunikasi sebentar tahulah yang dirumah dengan gadis mana sang bujang diluar itu mau ‘ngomong”. Kebiasaan  ini sudah merupakan adat, sehingga tidak akan dihalangi oleh bujang lainnya yang sedang bertandang.
        Akupun ikut merasakan betapa indahnya cara-cara demikian dalam berkomikasi yang sifatnya serius pada sang gadis. Disini akan nampak apakah sang gadis berminat dengan kita atau sebaliknya. Biasanya ngomong dibalik pintu ini terjadi paling sedikit 3 kali baru suatu janji dipadukan. Kalau sang gadis serius dengan pembicaraannya biasanya pembicaraan yang ke tiga kalinya ini tuntas. Bila belum itu tandaanya sang gadis kurang berminat pada kita; Sebaliknya sang gadis pun menilai sang bujang demikian pula.

     Pada waktu kisah ini kutulis tahun 2006 mungkin adat istiadat yang 50 tahun yang lalu telah berubah dengan cara yang lebih sederhana. Tetapi terus terang adat yang lama cukup menarik dan lebih berkesan untuk para remaja.

            Ketika usiaku telah menginjak tiga belas tahun dan aku telah menduduki kls II SMP  akupun mulai ikut tandangan ngan gadis. Terlebih-lebih lagi pada waktu libur sekolah, baik pada waktu kwartalan atau waktu libur bulan Ramadhan. Walaupun aku tinggal di kota Lahat tetapi kalau libur sekolah atau kalau ada yang pesta pernikahan di kampung saya bersama-teman teman yang sekolah di Lahat pulang ke kampung Arahan.                    

             Disitu kami mulai bersuka ria dan bersama-sama bertandang dengan gadis, baik yang berasal dari kampung kami sendiri maupun dengan gadis yang datang mengantar mempelai dari kampung lain. Alhamdulillah setiap kali aku menghampiri remaja puteri selalu mendapat sambutan yang cukup manis dan hangat, dengan wajah mereka berseri-seri dan senyumnya selalu keluar dari  mulut mereka, kami diterima dengan baik oleh gadisnya maupun oleh ibunya kalau ada ditempat itu.  Maklumlah anak sekolahan…. Yang tentunya menurut anggapan mereka masa depannya akan lebih cerah; apalagi orang tuaku cukup terpandang dan disegani di daerah itu,.. ….”anak kiyai dan beduit pule”.

 

            Kampung yang sangat sering kukunjungi ialah Desa Banjar sari  yang letaknya kurang lebih 2 km dari desa Arahan. Di desa ini banyak kenangan masa remaja kecilku yang sulit kulupakan, karena aku mulai mengikuti jejak remaja lain bertandang dengan gadis di mulai didesa ini. Gadis-gadis yang sebaya dengan aku didesa Banjar sari ini hampir semuanya sudah kutandangi antara lain, Syahilam yang rumahnya agak kehulu, dan Endani yang rumahnya disebelah hilir dan banyak lagi yang aku sendiri lupa namanya.   

           Pada waktu itu ada gadis yang sudah cukup remaja dan sangat pupoler namanya ialah Ning Imah, rumahnya agak ditengah-tengah desa Banjar sari. Sedang di desa Gedung Agung gadis yang pernah kuhubungi ialah Sedap Sekarwati putri Depati Abu Salam.
           Tetapi gadis yang sering kutandaangi dan sering ku ajak ngumung ialah Syahilam, yang alisnya tebal, kalau tidak salah dia adalah adiknya Syam’un, yang juga masih famili dengan Endani. Syahilam ini sering dijuluki oleh kawan-kawan dengan istilah “Mesang Mune”. Aku sendiri tidak mengetahui apa alasan nya maka di diberi julukan mesang mune tersebut . Kalau libur sekolah, aku menyempatkan diri bertandang ke desa Banjar sari ini.

         2.Ketika aku telah duduk dibangku Kls III SMP Negeri di Lahat, akupun mulai mencari pasangan yang cocok untuk kujadikan pacar dikemudian hari. Pada suatu hari disiang hari aku dengan beberapa kawan seperti Muhammad Abbas, anak Haji Nawawi dan Syamsuddin keponakanku sendiri, anak Muhammad Nur, pergi ke desa Banjar sari. Aku melihat gadis kecil yang usianya barangkali baru 10 tahun sedang mencuci pakaian di sungai lematang. Aku pandangi gadis kecil itu. Diapun menoleh kearah aku sambil tersebum. Aku tertarik padanya dan kutanyakan siapa gadis kecil itu, dijawaab oleh kemenakanku, dia namanya Marhamah anak Guru Kenasin , guruku sendiri.

         Hubungan kami berlanjut hingga aku menamatkan pelajaran di SMPN Lahat, Setelah aku meneruskan sekolah ke Yoyakarta dan Marhamah meneruskan sekolah ke Palambang dan tinggal di Sungai Tawar, 26 Ilir Palembang, kami terus berhubungan melalui surat menyurat. Sampai aku lulus SMA di Yogyakarta kami masih terus berhubungan surat, akan tetapi pada suatu waktu aku didesak untuk meningkatkan hubungan dari kawan biasa menuju ikatan perkawinan apabila aku sudah lulus SMA nanti. Namun aku belum sanggup karena belum mendapat pekerjaan tetap serta aku tetap ingin meneruskan pelajaranku, sampai selesai perguruan tinggi. Ahirnya dia menikah dengan bujang sekampung dengan dia yaitu Mat ari dan bekerja di TABA Tanjung enim.
         Sampai waktu kisah ini kutulis menurut kabarnya mereka menetap tinggal di Tanjung Enim. Salah satu anaknya kumasukkan sebagai pegawai Kantor Pos dan Giro di Kota Bumi, pada waktu aku menjabat sebagai Kepala Daerah Pos dan Giro Wilayah sumatera Bagian selatan tahun 1984-s/d tahun 1986.
         Tentang Syahilam gadis yang pertama kali aku ajak ngumung di balik duahe di Banjar sari, sejak akau melanjutkan sekolah ke Yogyakarta aku tidak tahu lagi kabar beritanya. Menurut cerita dia menetap tinggal di kota Palembang.

          3.Pada waktu aku telah menduduki bangku Kls III di SMP Negeri Lahat; aku dikenalkan oleh kawanku sekelasku Bistok Tobing yakni kawan akrabku di SMPN, dengan seorang gadis kecil yang tinggal di perumahan PJKA Sukaratu no M-1, yang bernama Djamidah dia pada waktu itu baru masuk SMP, usianya kira-kira 12 tahunan. [Lahir 29 April 1940]. Ayahnya bernama Bagindo DJamaluddin bekerja di Bengkel PJKA Bandar Agung, jabatannya lumayan juga , beliau mendapat perumahan yang cukup besar.

Aku diajak  oleh Bistok Tobing kerumahnya pada hari Minggu , kami makan rujak bersama-sama dan ngobrol cukup lama. Akupun menaruh perhatian pada gadis suku padang itu. Kami terus bersurat-suratan baik waktu masih di Lahat apalagi setelah aku pindah ke Yogyakarta. Akhirnya Bapak Djamidah dipindahkan ke Bengkel PJKA di Manggarai Jakarta.

         Djamidah pindah ke Jakarta sekolahnya dan setelah menamatkan SMP dia meneruskan ke sekolah Bidan R.S.Budi kemuliaan di Tanah Abang Jakarta. Sedang saya setelah menamatkan pelajaran di SMA meneruskan sekolah ke PTPG Sanatha Dharma di Yogyakarta. Kemudian aku pindah sekolah ke Akademi PTT di Bandung. Dan Tingal di Jalan Malabar 48.
Hubungan kami terus belanjut apalagi ketika aku kuliah di Akademi PTT Bandung dan tinggal di Bandung kami sering bertemu, karena jarak Bandung dan Jakarta sangat dekat. Sering sekali Djamidah datang ke Bandung karena ada kakaknya yang tinggal di Tamansari Bandng. Hubungan kami bertambah akrab dan hampir semua kawan-kawanku seasrama di Malabar sudah mengetahuinya.karena saking seringnya kami berpergian kalau sekolah libur.
         Setelah aku menyelesaikan pendidikan di Akademi PTT, hubungan kami tambah akrab. Akupun sering ke Jakarta ke tempat orang tuanya yang tinggal di Tebet , tidak jauh dari gudang peluru, masih dekat dengan kampung melayau. Karena kawan akrabku Mamoek Djaiz tinggal di Kampung Malayu, Jatinegara. [Tepatnya di Gang Mangga Bidara cina Kampung Melayu Jati negara]. Oleh sebab itu aku mudah ke Jakarta menghubungi orang tua Djamidah, karena ada yang mengantarku.

       Pada suatu hari aku pergi ketempat adik perempuan Bapak Jamaluddin di Bogor, untuk merundingkan sesuatu tentang hubungan kami. Mak Etek tinggal di Jln Kantor Batu no 1 Bogor. Tetapi dalam pembicaraan kali itu nampaknya mak Etek belum menyetujui perkawinan kami dilangsungkan dalam waktu singkat mengingat  ayuk Djamidah yang bernama Nuraidah masih belum menikah, Aku disuruh menunggu untuk waktu yang tidak pasti. Akupun saat itu menerima saja apa yang diputuskan mereka.
Aku ditugaskan di Kota Besar Tegal setelah lulus pendidikan, Tetapi surat menyurat antara aku dan Djamidah terus berlanjut.

       Setelah kurang lebih empat bulan aku bertugas di Tegal, tepatnya pada tanggal 3 Januari 1961 aku ke Jakarta, aku menginap di tempat Mamoek Djaiz. Dengan diantar oleh kawanku Mamoek Djaiz aku berkunjung ke rumah pak Djamaluddin datuk Bagindo di Tebet Timur, Dirumah pak Bagindo ini telah ada mak Etek. Perundingan tentang pernikahan kami dilanjutkan. Karena Djamidah pun sudah hampir selesai sekolah Bidan, tinggal beberaapa bulan lagi. Aku disuruh oleh orang tuanya untuk bersabar ; akupun bersabar.
           Orang tuanya berkata tunggulah sebentar lagi  kakaknya sedang dicarikan jodohnya di Pariaman. Mudah-mudahan dalam dua bulan ini ada kabar baik.
Setelah berunding mulai jam l6.00 hingga habis Maghrib dirumahnya di Tebet, saya dan Djamidah naik becak ke Rumah sakit Budi Kemulian di Tanah Abang. Jarak antara Tebet dengan Rumah sakit Budi Kemuliaan cukup jauh , tetapi karenaa lalu lintas pada waktu itu masih sangat sepi jadi tidak ada masalah. Dalam perjalanan itulah kami berjanji kalau nanti Djamida cuti , kurang lebih 3 bulan lagi kami akan ke Yogyakarta dan menyusun strategis di Yogya untuk menikah lari.

         Di Yogya ada kawan akrabku yang bernama Gozali yang telah berkeluarga dan bekerja menjadi Guru di SMEP Yogya.
Tetapi rencana kami berdua itu diketahui oleh orang tua Djamidah dan Djamidah tidak diizinkan untuk cuti ke Yogyakarta dan diubahnya cuti ke Padang. Nampaknya pertemuan aku dengan Djamida merupakan pertemuan yang terakhir, karena sesudah kami berdua memadu janji  diatas becak dengan segala rencana yang dianggap cukup matang, kami berdua tidak bertemu lagi hingga kisah ini kutulis.
 Kenangan manis tetap terkenang dalam pergaulan kami yang cukup panjang mulai dari SMP kls I hingga lulus sekolah bidan. Sayapun demikian mulai dari SMP Kls III di hingga aku lulus Akademi PTT di Bandung.

                     Tiga bulan kemudian tepatnya tanggal 13 Agustus 1961. setelah rencana kami cuti ke yogya bersama gagal, aku menghadap lagi orang tua di Tebet Jakarta aku bersama kemenakanku Arfan, setelah kami  berdua dari Krawang untuk sesuatu keperluan berobat di Teluk Jambe Karawang , kami terus ke Jakarta kami menemui orang tuanya untuk menanyakan hubungan kami dengan Djamidah. Namun jawaban orang tuanya tuggulah sabar sebentar lagi. Aku tidak bertemu lagi dengan Djamidah karena Djamidah saat itu sedang berada di Padang. Karena jawaban Bapak terus mengambang, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami dan masing-masing mencari jalan sendiri-sendiri .

        Tetapi maksudku untuk mengakhiri hubungan dengan Djamidah itu, tidak disetujui oleh keluarganya dan mak Etek, katanya hubungan kamu telah cukup lama dan mempunyai riwayat panjang. Aku tegaskan lagi dengan Mak Etek dan Pak Djamaluddin aku ingin kepastian kapan kami bisa menikah??. Sebulan lagi.enam bulan lagi atau setahun lagi. Kalau ada kepastian saya mau menunggu. Tetapi kalau tidak ada kepastian ya saya keberatan, umur kami makin lama makin tua, pekerjaan kami sudah mantap dan tetap; persiapan kami sudah matang. Tetapi pihak keluarga Djamidah tetap saja tidak dapat menetapkan tanggal kepastian kami untuk menikah.

      Akhirnya dengan suratku terakhir kutegaskan mulai saat surat ini kutulis hubungan kami untuk berumah tangga diakhiri dan kami hanya sebagai saudara dengan saudara saja. Dan tolong cerita ini jangan diberitahukan pada Djamidah untuk waktu yang singkat ini.Karena dia belum dapat menerima kenyataan yang pahit ini.

        Kabar terakhir kudengar dari orang tuanya ketika aku berkunjung ke Jakarta dalam rangka dinas; dia telah menikah dengan seorang tentara berpangkat sersan yang pernah dirawatnya di sebuah rumah sakit. Dan bertugas di Pakan baru. Orang tuanya menyuruh saya untuk menghubunginya dan diberinya alamat dan sebagainya, tetapi saya katakan , dia sudah isteri orang dan aku tidak boleh lagi berhubungan dengan dia, terimakasih atas segala kebaikan ibu dan bapak disini.Berakhirlah kisah kami berdua dengan Djamidah , kami mengambil jalan sendiri-sendiri. 

           4.Ketika aku tinggal di Yogyakarta, aku bertetangga dengan seorang gadis kecil yang sangat baik kepadaku, dia pada waktu itu sekalah di SKPN kls II namanya Faizah, yang tinggal bersebelahan rumah dengan tempat kostku di Jalan Bausan DN 6/129 Yogyakarta. Kakak sepupunya bernama Zuhroh bersekolah di SGKP Yogyakarta pula.
Dia berasal dari Semarang, , dia turunan Arab dan ayahnya pengusaha dan mempunyai banyak Hotel  antaranya ialah “ Hotel Islam” yang terletak tidak jauh dari pasar Johar semarang… Untuk mengenang kebaikan-kebaikannya padaku sewaktu bergaul dengan
mereka serta pendorong semangatku untuk terus belajar dengan giat. Maka namanya, kuabadikan pada nama salah seorang putriku yang  bernama Maizah, merupakan singkatan nama Marhamah gadis desa Banjar sari puteri kepala SR Banjarsari dan Faizah yakni gadis tetanggaku  ini.

         5.Pada waktu aku mengajar di SMA Diponegoro Wates Yogyakarta, ada salah seorang muridku yang nampaknya sangat terkesan dengan caraku mengajar. Dia itu seorang Guru SR di daerah Wates Yogyakarta tamatan SGB. Namanya Sami Budiyati. Aku mengajar di Wates kurang lebih 5 bulan, setelah itu aku pindah ke Banudng untuk kuliah di Akademi PTT. Pada waktu perpisahan karena kepindahanku ke Bandung itu, dia minta alamatku di Bandung supaya nantinya silaturahmi tetap berlangsung. Setelah aku pindah ke Bandung surat menyurat terus berlangsung  Setelah setahun aku kuliah di Akademi PTT, waktu liburan kuliah aku bersama kawanku pergi kekampungnya Sami Budiyati di desa Wingkotinumpuk Purworejo. Seminggu aku dan kawanku berlibur didesa itu. Selama tinggal di desa Wingkotinumpukitu, setiap hari  kami piknik ke tempat-tempat wisata didaerah Purworejo dan Kuto arjo dengan berboncengan bersepeda. Kami menelusi desa-desa wingko mulyo, wingko harjo Sangu banyu , Koto Arjo terus ketempat wisata yang dibangun seperti bangunan Minangkabau. Yang namanya  PITURUH.

        Waktu kami datang dengan kerata api dari Bandung kami terus dulu ke Yogya dan kami telah ditunggu oleh mbak Sami, terus kami keesokan harinya menuju wingko dengan kereta api; berhenti di stasiun Purwodadi Purworejo; kemudian kami naik andung menuju desa Wingko tinumpuk dengan melalui jalan desa yang cukup nyaman karena sepanjang jalan ada pohon-pohonan serta sawah yang terbentang luas, banyak burung dan binatang-binatang yang cukup menarik seperti segerombolan itik, burung –burung bangau yang berparuh panjang atau burung belekok dll. Pokonya liburan ke desa itu walau seminggu memang menghilangkan kepenatan dari belajar.

         Setelah berlibur selama seminggu di desa Wingko tinumpuk, banyak kenangan yang sulit dilupakan seperti pemandangan alamnya, cara hidup di desa di Jawa tengah, pergaulan dengan para petani. Dan tidak kalah pentingnya ialah kenangan berkeliling bersepada selama berhari-hari menyusuri kampung-kampung dan pantai berduan bersepeda, tanpa mengenal lelah. Kawankupun sama halnya dengan aku,  dia berboncengan dengan sepeda berpasangan dengan salah seorang gadis desa yang sekolah di Yogyakarta.

            Hubungan kami  [aku dengan Sami] bertambah erat; setelah dua tahun aku kuliah di Bandung, Sami mengirim surat ingin ketegasan bagaimana hubungan kami selanjutnya?. Katanya karena usia makin hari makin bertambah, kalau sudah ada kepastian berapa lamapun akan kutunggu katanya. Aku bingung untuk memilih Sami budiyati yang sangat menyayangi aku, atau Djamidah di Jakrta yang hubungan kami sudah cukup lama.
Akhirnya kuputuskan aku belum mau menetapkan siapa yang akan menjadi teman hidupku nanti. Kujelaskan kepada Sami Budiyati bahwa saya sama sekali belum memikirkan untuk berkeluarga, karena disamping belum ada persiapan juga saya masih ingin bebas dulu menikmati masa remajaku, dan aku persilahkan dia untuk menikah terlebih dahulu dan kami tetap menjadi kawan dan seperti adik beradik. Apalagi dik Sami Budiyati merupakan anak tunggal dan akupun menjadi kakaknya.

          Enam bulan sesudah itu dik Sami menikah dengan pegawai PEMDA WATES yang dulu memang sangat menyenangi Sami, tetapi belum ditanggapi oleh dik Sami. Keadaan
itu  sebelum hubungan kami terpadu menjadi erat. Setelah menikah beberapa lama akhirnya dia pindah semua ke Yogyakarta dan terakhir dik Sami Budiyati menjadi kepada SD Jetis I di Jetis Yogyakarta. Hubungan kami tetap baik seperti keluarga walaupun dia sudah menikah. Kami selalu memberikan kabar satu sama lain baik kabar gembira maupun kabar sedih.
       Pada waktu aku dipindah tugaskan dari Palembang ke Bandung tahun 1978 aku bersama kawanku Hasbullah dan masing-masing membawa dua anak, saya membawa Achmad Azimi kertamuda dan Fatchiah Kertamuda sedang Hasbullah membawa Rudi dan Novi? Piknik ke Yogyakarta. Pada waktu itu dik Sami datang ke Hotel tempat kami menginap bahkan kami sempat mengunjungi makam Bapak orang tua dik Sami di Wingkotinumpuk Purworejo. Kami diantar oleh sepupu dik Sami yang laki-laki untuk menemani kami kemana saja , ke desa Wingko-Tinumpuk, Purworejo dll.

            Pada waktu aku sakit di Tegal dan pada waktu aku putus hubungan dengan Djamidah akupun memberi tahu Dik Sami; dan dialah yang termasuk menyarankan apabila telah ke dokter belum juga ada hasilnya sebaiknya pergi pada orang pintar; mungkin sakitnya itu bukan sakit biasa. Ketika kujelaskan tentang putusnya hubunganku dengn Djamida dia menyarankan agar bersabar, karena mungkin Mas Abbas akan mendapat yang lebih baik lagi dari pilihan sebelumnya.

           Pada waktu kisah ini ditulis dik Sami Budiyati telah berpulang kerahmatullah, Dia meninggal dunia pada tahun 2004 dalam usia 68 tahun, meninggalkan seorang putri, 3 orang cucu dan suami. Innalillahi wa inna ilahi Rojiun Allahumma firlahaa, warhamha wa’afiha wa’fuanha, waakrim nuzulaha, semoga segala dosanya diapuni, diberi rahmat dan perlindungan oleh Allah Swt dan ditempatkan pada tempat yang sebaik-baiknya disisi-Nya, amiin. Telah kembali sahabatku, kawan dan kekasihku, kepangkuan Allah Swt.

6.***** Pada waktu aku berdinas di Tegal ada hal sulit kulupakan antara lain, aku menderita penyakit aneh yakni penyakit yang menyerang sendi pernapasan serta pernah mengeluarkan darah pada waktu aku berludah yang cukup banyak. Hingga aku pernah hampir 3 bulan tidak keluar rumah kecuali kekantor tempat bekerja.
Aku menyurati kawan-kawanku yang pernah tinggal di Yogyakarta waktu sekolah SMA dulu, menceritakan tentang penyakitku diantaranya ialah Nurhayati yang pada waktu itu sekolah di SGA Yogyakarta bersama Thamrin Koni kawan se kostku di Bausasran dan Margangsan. Dia berasal dari Kerawang, dia menyarankan agar aku berobat di Kerawang karena penyakit yang kuderita itu agak aneh. Aku telah berobat ke Dokter di Tegal dan Slawi baik yang berkaitan dengan penyakit umum maupun penyakit paru-paru. Aku hampir tiap minggu berobat ke Dr Paru-paru di RS Slawi , dokternya dr.Rajiwan. Dalam analisanya tetap saja penyakitku itu masih di observasi [ dalam penyelidikan].
           Demikian pula dengan kawanku dik Sami Budiyati dia menyarankan agar aku sebaiknya pergi pada orang pintar; mungkin sakitnya itu bukan sakit biasa

            Akhirnya aku menuruti nasehat temanku Nurhayati. Pada tanggal 8 Agustus 1961, aku mengambil cuti dan dengan ditemani kemenakanku Arfan Ismail pergi ke Karawang untuk berobat sesuai dengan saran kawan ku Nurhayati. Kami tiba rumah Nurhayati di
Karawang hari Selasa siang jam 13,30. aku dan Arfan menumpang dirumah Nurhayati di jln Bubulak Goro 13 Karawang.
           Hari Rabu tanggal 9 Agutus 1961 Aku di bawa oleh Nurhayati bersama orang tuanya menemui wak Haji Muslich atau lebih dikenal Haji Nuh yang tinggal di Teluk Jambe Karawang.  Setelah dilihat oleh Wak Haji Muslich keadaan ku, beliau menjelaskan
          keadaan penyakitku itu sbb ;

1.Penyakitku cukup berat karena sumber penyebabnya itu diletakkannya di sumsum.
2.Tujuannya ialah untuk melumpuhkan otak, sesudah melumpuhkan sumsum.
3.Pihak mereka memang kuat dan berat.
4.Sukar disembuhkan oleh orang biasa walaupun melalui pengobatan dokter atau dukun yang derajatnya dibawah mereka.
5.Penyakit ini tidak dapat dilihat oleh orang lain, walaupun di rontgen atau di Usg.
6.Tentang obatnya yang pasti aku [wak haji Nuh] mau meminta petunjuk dulu dari Allah,
Insya Allah  Allah akan memberikan petunjuk pada malam jum’at yang akan datang.
7.Insya Allah dengan pertolongan Allah kita bisa menyembuhkannya.
                                                 [ Diambli dari sumber catatan harianku] 
       Gejala yang kurasakan:
 a.pada mulanya keluar darah segar dari mulut
b.Badaan lemes-lemes dan sering sekali keluar angin dari mulut berdebus-debus.
c.Dan perasaan meradang itu mula-mula terjadi pada malam jum’at dan selanjutnya setiap malam jum’ad dan malam selasa.

      Obat yang diberikannya pada hari Rabu ketika kami datang untuk pertama kalinya ialah berupa minuman untuk menghilangkan  kekuatan sihirnya saja.
Katanya dia akan sholat sunat dua rekaat dulu pada malam jum’at nanti mudah-mudah akan dapat petunjuk tentang obatnya. Kemudian pada siang hari Jum’at tanggal 11 Agustus 1961 kami pergi lagi ke Teluk Jambe dan oleh Wak Haji Nuh    Aku diberi beberapa obat berupa air putih . serta nasehat agar aku banyak membaca istighfar serta harus selalu taat beribadah kepada Allah. Tiap sehabis sholat lima waktu, terutama sesudah sholat maghrib dan  Sholat shubuh aku harus berzikir yang cukup panjang.
Beberapa saat kemudian penyakitku mulai berkurang sedikit demi sedikit. Akhirnya beberapa bulan kemudian kurasakan sudah menghilang sama sekali.

          7*****.Aku khawatir akan diriku karena selalu di rotgen kalau-kalau nanti aku tidak akan mendapat keturunan, maka disarankan agar aku segera menikah. Kenalanku seorang Guru SMA di Tegal menghubungkan aku dengan kenalannya dan akhirnya menjodohkan aku dengan seorang Gadis Tegal. Singkat kata akhirnya aku menikah dengan Mrr Soewarni binti Abdullah yang bertempat tinggal di Jln Mawar 65 Tegal. pada malam Minggu tanggal 7 Januari l962 jam 19.30.
       Dalam perkawinan ini lahirlah puteri pertamaku  yang kuberi nama Maizah Kertamuda. Nama ini merupakan gabungan dari nama kawan kecilku didesa Banjarsari sebelum aku pergi melanjutkan sekolah ke Yogyakarta yakni Marhamah binti Kenasin; anak Kepala sekolahku sendiri. serta seorang kawan dekatku yang bernama Faizah I.M., yang tinggal bersebelahan rumah dengan tempat kostku di Jalan Bausasran DN 6/129 Yogyakarta.
Dia berasal dari Semarang, Rumahnya di Jalan Kauman no 4 dan kadang kala tinggal di
jln Suroyodan 55, Bojong Semarang. Waktu itu sedang bersekolah di SKP [Sekolah Kepandaian Putri] di Yogyakarta, dia turunan Arab dan ayahnya pengusaha dan mempunyai banyak Hotel  antaranya ialah “ Hotel Islam” yang terletak tidak jauh dari pasar Johar semaranng… Nama puteriku ini kuambil dari singkatan nama kawan-kawan kecilku itu untuk mengenang kebaikan-kebaikannya padaku sewaktu bergaul dengan mereka serta dialah yang mendorong semangatku untuk terus belajar dengan giat.

         Tetapi perkawinanku dengan ibunya Maizah tidak berlangsung lama, hanya berlangsung kurang lebih satu setengah tahun, akhirnya kami bercerai dengan secara baik-baik. Sangat sulitlah kuceritakan penyebabnya, masalahnya menyangkut perasaan hati, mungkin pada waktu mau menikah dulu terlampau singkat, karena waktunya sangat pendek, kami satu sama lain belum saling belum saling mengenal dalam arti kata yanag luas, baik tentang perasaan, tingkah laku dan sebagainya.

         Aku bersyukur dari hasil perkawinan ini ada keturunan yang akan terus menjambati kenangan kami. Ketika kisah ini kutulis dik Mrr Soewarni telah dipanggil oleh Allah Swt,
Semoga beliau tenang dan tenteram dalam kuburnya. Innalillahi wa inna ilahi Rojiun Allahumma firlahaa, warhamha wa’afiha wa’fuanha,waakrim nuzulaha, semoga segala dosanya diapuni, diberi rahmat dan perlindungan oleh Allah Swt dan ditempatkan pada tempat yang sebaik-baiknya disisi-Nya, amiin.

8. ***Setelah kurang lebih 3 bulan aku bertugas di Sungai gerong, aku bercerai dengan isteriku yang bernama Mrr. Soewarni, karena berbagai sebab pribadi, yang sangat sulit untuk dijelaskan karena menyangkut masalah hati.
Setelah aku bercerai dengan Mrr Soewarni, aku mulai mencari pasangan hidup  baik dengan cara mencari sendiri maupun dengan bantuan orang lain. Hal ini kuceritakan dengan kanda Haji Muhammad dan ayunda Musri’ah. Aku ada minat untuk menjajaki puteri kanda Ahmad Dahlan yang bernama Muthi’ah, karena menurut pendapatku kala itu pantas untuk mendampingiku baik dilihat dari tingkat pendidikannya maupun yang lainnya. Disamping itu aku ingin menguatkan basis keluarga, lalu hal ini kuceritakan dengan kanda H.Muhammad sekeluarga. Beliau sekeluarga sangat menyeujuinya, lalu hal itu diceritaakan kepada kanda A.Dahlan sekeluarga oleh kanda H.Muhammad. Nampak semua keluarga kanda A.Dahlan telah menyetujuinya. Termasuk keluuarga besarnya seperti kanda M.Nuh, kanda H.Hasyim dll.
 
         Hubungan itu terus diakrabkan oleh orang tuanya dan keluarganya, sempat kanda A.Dahlan, kanda H.Muhammad dan Muthi’ah berkunjung ketempat kediamanku di Sungai Gerong dalam rangka mempererat hubungan dan saling menjajaki. Pada awal-awalnya hubungan kami berjalan mulus, tetapi diantara hubungan kami berdua dengan Muthi’ah ini ada pihak ketiga yang nampaknya sudah lama berkenalan dengan Muthi’ah. Dia sekolah di SHD = Sekolah Hakim Jaksa di Palembang. Hubungan kami berjalan dengan baik bulan demi bulan, baik melalui telepon maupun melalui surat.
Tapi ganjalan pihak ketiga tetap saja membayangi dan nampaknya sukar untuk dikendalikan. Pada suatu waktu ketika kanda A.Dahlan menikahkan Lailah dengan Zahri, yang diadakan pesta di Arahan ,  Malam muda-mudi diselenggaran tidak jauh dari rumah kanda H.Muhammad sehabis pernikahan antara Laila dengan Zahri tersebut. Pada waktu itulah Muthi’ah menunjukkan sikap yang jelas bahwa dia masih mencintai kawannya yang sekolah di SHD tersebut yang malam pesta itu diundang ke dusun Arahan. Kemana saja dia pergi mereka berdua, termasuk menyanyi dan berjoget. Akupun pada malam itu ikut
hadir dalam pesta tersebut. Melihat tingkah laku mereka yang ingin pamer berdua, akupun  pulang kerumah Kakanda Haji Muhammad yang memang tidak jauh.

             Setelah aku pulang ke Sungai gerong, aku langsung menulis surat Pertama kepada kanda A.Dahlan, kedua kepada Pasangan Muthia’ah dan ketiga kepad Muthia’ah sendiri, Yang intinya . Kalau kepada kanda A.Dahlan aku jelaskan, aku kembalikan mandat untuk membentuk rumah tangga dengan Muthi’ah yang dulu diserahkan dengan aku untuk mengambil inisiatif, karena aku tidak sanggup dan tidak mampu membentuknya. Dalam suratku kepada Muthi’ah kujelaskan bahwa nampaknya hubungan kita untuk membentuk suatu rumah tangga tidak dapat diteruskan, karena kamu masih ingin berhubungan dengan kawanmu yang sekolah di SHD tersebut.; Aku persilahkan kepadanya untuk meneruskan hubungan dengan kawannya itu, dan mungkin itulah jalan yang terbaik bagimu. Kepada Kawannya yang sekolah di SHD kukemukakan bahwa hubungan aku dengan Muthiah terakh kuakhiri, kini dia tetap sebagai kemenakanku saja. Silakan teruskan hubungan kalian.
           Tidak berapa lama setelah aku putuskan hubungan dengan Muthi’ah kanda A.Nawi dan kanda Sahib ketika dia datang ke Sungai gerong menjelaskan ada gadis adik kawannya yang tinggal di Sekip dekat rumah Sahib yang nampaknya cocok untuk adinda katanya. Beberapa hari kemudian aku dipertemukan dengan gadis tersebut, setelah itu aku nampaknya cocok baik dipandang dari kesederhanaannya maupun dari kejujuran kata-katanya.

     Kujelaskan kepada kanda A.Nawi [Menawi] aku nampak ada minat untuk meneruskan hubungan kami tersebut. Kak Nawi dan Sahib beserta isterinya [ Ayuk Sri] bersama gadis yang diceritakannya jalan-jalan ke Sungai gerong pada hari minggu. Kamipun berbicang-bincang [antara aku dan gadis tersebut] cukup lama; aku menceritakan segala sesuatu apa adanya. Nampaknya antara kami berdua ada kecocokan.

             Setelah beberapa kali bertemu, akhirnya kami datang ke Manggul untuk meminang, pada waktu itu kami datang bertiga yakni aku, kanda H.Muhammad dan adik Samudin [ suami Asmah]. Kanda H.Muhammad sebagai ketua rombongan dan sekaligus juru bicara. Sedang di pihak tuan rumah juru bicara dan sekaligus sebagai tua-tuanya ialah Wak Bachsin. Perundingan berjalan lancar dan tidak ada halangan yang berarti, hadir pada waktu itu kanda Honudin yang kebetulan baru cuti setelah bertugas di Irian Barat. Sedang Kak Bahrun tidak hadir.

Setelah melalui beberapa proses menurut adat, yang memakan waktu yang cukup lama, akhirnya, sehabis mengetam padi kami menikah di Manggul Lahat, tepatnya malam minggu tanggal 19 Muharram 1384 bertapatan dengan tanggal 30/31 Mei 1964, pada waktu itu usiaku sudah 27 tahun dan isteriku menginjak usia 20 tahun.

         Memang usia isteriku pada waktu itu masih cukup mudah oleh sebab itulah pada waktu kelahiran puteraku pertamaku Achmad Azimi Kertamuda tangal 5 Nopember 1965; bidan yang membantu melahirkan di Rumah sakit Stanvac Sungai Gerong berkata: “Itulah kalau kawin masih mudah, rasakanlah kesakitannya”. Isteriku merasa sangat sakit hati atas pernyataan seorang bidan muda keturunan Tiong howa itu. Lalu aku meminta kepada Bidan kepala orang Menado supaya diganti saja yang merawat isteri saya dengan orang
yang lebih tua. Usulku itu dikabulkan. Akhirnya isteriku selama di Rumah sakit ditangani oleh Bidan yang tua dan sabar, isteriku sangat senang, karena banyak nasehat yang diberikan bidan itu dalam merawat anak dan dan juga yang berkaitan dengan makanan bayi.

      Isteriku tidak tahu bahwa sebenarnya bidan muda Tiong howa itu, sebelum kami menikah memang sering kekantor Pos dan selalu menemui aku untuk mengirim surat kepada orang tuanya yang ada di Malang. Dan dia nampaknya sangat menaruh hati padaku; akan tetapi karena perbedaan adat dan agama maka aku tidak pernah menanggapi hasratnya. Dia sering memberiku kue dan sebagainya kalau datang kekantor Pos. Kejadian ini  tentu saja sebelum aku menikah dengan Wartini. Setelah diketahuinya bahwa aku akan menikah, maka diapun menjauhi aku dan tidak pernah lagi ketempatku. Kalau mau kirim surat cukup di loket kantor saja.

        Waktu berjalan terus keadaan rumah tangga kami berjalan mulus. Pada awal pernikahan kami isteriku mengikuti berbagai kusrsus di Palembang, untuk mengisi waktu yang lowong dan memecahkan kesepian sendirian dirumah karena aku sendiri kalaau pagi hari pagi ke kantor, isteriku kursus menjahit, memasak dan sebaginya di Palembang.Ini salah satu untuk menambah keterampilan ibu rumah tangga serta menghilangkan kejenuan tinggal sendiri ketika aku pergi kekantor. Karena untuk pergi ke Palembang disediakan alat angkutan khusus baik berupa mobil dari Sungai Lais ke Palembang atau melalui sungai dengan kapal khusus bagi pegawai Staff dan keluarganya tanpa dipungut biaya sepeserpun.

        Walaupun keadaan rumah tangga kami berjalan mulus dan tidak ada kesukaran berarti, namun ada-ada saja yang ingin mengganggu ketenteraman kami.
Pada suatu sore , hari sabtu , aku pada waktu itu sedang kulaih di Universitas Fathahilah di Palembang, ada seorang perempuan yang menelpon ke rumah, menanyakan aku. Telepon diterima oleh isteriku, sang penelpon berkata mana “mas Abbas, kami telah berjanji malam minggu ini akan nonton bersama, dan banyak lagi cerita lainnya kepada isteri saya. Isteri saya menjawab sumai saya sedang kuliah di Palembang. Perempuan itu lalu menutup teleponnya. Ini jelas orang yang ingin merusak rumah tangga orang, untunglah isteri saya tidak menanggapinya secara serius, karena ini tidak mungkin rasanya, dan mungkin pula salah nomor telepon. Karena pada waktu itu di Sungai erong ada pula yang bernama Abbas kartadinata pegawai Staff di Stanvac yang tinggalnya  di kamoung Baru Sungai gerong.

        Setelah anak pertamaku lahir isteriku mengurusnya dengan sangat baik dan kalau ada kesulitan selalu menanyakannya pada bidan Rumah sakit yang letaknya hanya  dibelakang rumah kami tinggal. Isteriku mulai ada kesibukan seperti merawat bayi, menjaga kesehatan bayi seperti mengantarkan anak di vaksin ke Rumah Sakit dsb-dsb. Oleh sebab itulah anak pertamaku tumbuh sehat dan dapat menyaingi kesehatan dan kebugaran anak-anak para Staf Stanvac di Sungai Gerong.

          Dalam rangka merayakan Hari Kartini  1966 di Sungai Gerong telah deselenggarakan  Baby Show yang diikuti bayi-bayi yang dilahirkan di Rumah sakit Sungai Gerong. Baby Show itu diikuti oleh 15 bayi yang berumur antara 3-12 bulan. Atas dasar pertimbangan kesehatan, perawatan, pertumbuhan bayi dsb maka akhirnya keluarlah
pemenang-pemenang sbb:
 Bayi yang berumur 3-10 bulan.
1.Bayi Abas Kertamuda.
2.Bayi Rachman.
3.BayiParwoko.dirayakan dengan meriah
     Jadi anakku Achmad Azimi Kertamuda mendapat juara satu pada perlombaan bayi antara 3 s/d 10 bulan, walaupun dia bukan anak Staff Stanvac yang makannannya tidak sebaik orang-orang Stanvac.
      Dalam urusan rumah tangga dan merawat anak sebenarnya yang memegang peranan adalah isteriku; karena dia banyak waktu untuk itu serta dia memang punya perhatian dan kesenangan khusus untuk mengurus anak-anak. Sedangkan saya sendiri kurang waktu, karena kalau pagi pergi kekantor, sore hati belajaar atau mengajar atau mencari tambahan penghasilan dengan cara berdagang. Jadi waktuku habis untuk bekerja, belajar dan mengajar atau berdagang.

                     Anak dan Istri H.Abbas AH.Kertamuda Bc.Ap. B.A .SH.

1.Maizah Kertamuda, SH. **lahir di Tegal  7 Maret 1963.
2.Achmad Azimi Kertamuda, S.E. ** lahir di Sungai gerong tanggal 5 Nopember 1965.
3.Dra.Hj.Fatchiah Ekowaty Kertamuda, M.Sc. ** Lahir di Lahat, 20 Maret 1968.
4.Achmad Zuhry Kertamuda. Lahir di Lahat 7 Juni l970, ***)
5.Marten Shali Kertamuda, S.E.Akt. Lahir di Lahat 10 Maret 1973.
6.Fitriansyah Kertamuda. AMD .ST. Lahir di Palembang 21 September 1976.
Isterinya :
1.Mrr.Suwarni bin Abdullah.puterinya 1 orang yang no 1.
2.Hj.Wartini binti Keman, putera-puterinya no 2 s/d 6.

1.***)Anakku Achmad Zuhry Kertamuda –027679., pada tanggal 19 Agustus 1988 telah berpulang ke Rakhmatullah, karena kecelakaan lalu lintas di jalan Kiara Condong. Dimakamkan di TPU MUSLIMIN di CIKUTRA, Blok: B. Kls I T no 566 , Type A-3. Kartu Data Pemakaman Nomor 5192/Okt/VI/1996.

2.Achmad Azimi Kertamuda, Lahir di Rumah sakit “Stanvac , Kampung Lama , Sungai gerong ditangani oleh Dokter Yanitza dari Jerman dan dibantu oleh beberapa bidan  pada tanggal 5 Nopember 1965.

3.Fatchiyah E.Kertamuda, Lahir di rumah dinas Kantor Pos Lahat, Jalan Serelo. Tanggal 20 Maret 1968, ditangani oleh Bidan Nurmilah.

4.Marten Shalli Kertamuda, Lahir di rumah dinas Kantor Pos Lahat, Jalan Serelo. Tanggal  10 Maret 1973. ditangani oleh Bidan Astina.
                        
5.Fitriyansyah Kertamuda, lahir di Rumah sakit Charitas Palembang , Jln Jendr Sudirman, tanggal 21 September 1976, ditangani oleh dokter dan dibantu oleh perawat.

        Pada waktu aku berdinas di Sungai gerong maupun di Lahat, banyak waktu yang senggang yang kugunakan untuk bermain-main dengan anak –anak, tetapi setelah aku
bertugas di Kantor yang lebih besar seperti di Palembang dan Bandung, sebagian besar waktuku dihabiskan untuk kepentingan dinas dan Kuliah. Hanya waktu libur aku dapat mengajak anak-anak bermain-main, ketempat tempat hiburan seperti ke Taman Lalu lintas dan Kebun Binatang di Bandung. Pada umunya yang mengurus segala keperluan anak-anaku adalah isteriku, baik yang menyangkut sekolahnya maupun lesnya, aku hanya mengawasi dan menyarankankan saja sedangkan pelaksanaan semuanya ditangani oleh isteriku. Terlebih-lebih lagi ketika aku telah bertugas sebagai Kepala Daerah Pos dan Giro di Palembang maupun di Semarang, dimana anak-anak sepenuhnya diurus dan ditangani oleh isteriku maklumlah 

          Ketika aku berdinas di Sungai Gerong anakku baru satu dan masih kecil jadi belum memerlukan biaya untuk sekolah, disamping itu kami mendapat tambahan penghasilan berupa delapan bahan pokok dari P.T.Sranvac Indonesia. Hingga sama sekali tidak dirasakan adanya kekurangan dalam memenuhi keperluaqn rumah tangga.
Ketika aku dipindahkan ke Lahat anak ku Achmad Azimi baru berumur 2 tahun 4 bulan; dan, perhatian kami berduapun masih terfokus kepadanya. Di Lahat kami bertugas cukup lama kurang lebih 7 tahun sehingga tiga anakku lahir di Lahat. Fatchiah, Achmad Zuhry dan Marten Shally.

         Pembinaan dan perawatan bagi keempat anakku tersebut selama kami tinggal di Lahat  baik dan terarah, karena kami jarang meninggalkan anak-anak karena dinas kami pada umumnya hanya meliputi kabupaten Lahat saja yang bisa ditempuh satu atau dua hari saja. Hanya sekali kami berdua pergi keluar kota agak lama kurang lebih 3 minggu yakni pada waktu kami Kongres SSPTT di Semarang. Pada waktu itu anak kami hanya seorang yakni hanya Achmad Azimi saja. Tetapi yang mengurus achmad azimi cukup banyak  Ibu mertuaku, ayuk Emah dan yang lain-lainnya.

Setelah anakku yang tertua berusia 5 tahun kami masukkan dia ke TK Aisyiah 
Dekat rumah dinas di Lahat.

Dalam rangka pembinaan keluarga kami, dapatlah dijelaskan dari sekelumit “Kisah suka duka dalam bekeluarga “ yang ditulis sendiri oleh isteri saya yang tercinta dengan judul.

                “KISAH PERJALANAN HIDUP DALAM PERKAWINAN”

      I.Pada bulan Februari 1964 saya diperkenalkan oleh seorang tetangga pada seorang laki-laki bernama Abbas di Palembang, tempatnya di Asrama CPM Sekip Ujung.
Dari pertemuan dan perkenalan biasa-biasa saja, namun dari hari ke hari dan dari minu ke minggu sampai bulanke bulan terjadilah suatu keputusan yaitu pernikahan.
Pada awal Mei 1964 saya dilamar dan pada akhir Mei 1964 dilangsungkan Pernikahan sederhana.  Kedua belah pihak sama-sama mnyetujui dan merestui.

                     Kisah lengkapnya dapat dibaca pada Bab IX Pendahuluan dibawah Judul Bio Data dan Riwayat singkat Hj. Wartini Binti Keman. isteriku.

            Memang isteri saya  sangat memperhatikan perkembangan anak-anaknya serta mengurusnya dengan penuh rasa kasih sayang. Walaupun anak-anak kami sering kami
tinggalkan karena harus bertugas ditempat lain , umpamnya ketika kami dipindahkan dari Bandung menjadi Kepala Daerah Pos dan Giro di Palembang selama kurang lebih 3 tahun, hanya 2 orang yang kami bawa ke Palembang yang lainnya yakni Ahmad Azimi Kertamuda; Fatchiah E.Kertamuda dan Achmad Zuhry Kertamuda tetap tinggal di rumah kami di Jalan Sekejati II no 29 Bandung. Tetapi isteri saya hampir setiap 2 bulan sekali dengan pesawat terbang pergi ke Banung untuk melihat dan memperhatikan segala keperluan anak-anak kami baik berkenaan dengan kebutuhan pendidikan maupun logistiknya..
Tidak ada rasa cepek jika dia akan melihat anak-anaknya yang jauh.
Begitu pula ketika kami dipindahkan dari Palembang ke Semarang. Semua anak-anak kami tinggal di Bandung. Hampir tiap bulan isteri saya datang ke Bandung dengan Travel SM, sehingga supir travel Sm hapal tempat kemana isteri saya akan pulang.

     .Disamping itu semua mengurus keperluan sekolah isteri sayalah yang menangani, sampai dia tingkat SMA. Baik memasukkan, mengantar mencari sekolah sampai mencarikan guru untuk les bagi anak-anak. Sekali lagi aku bangga karena memang sangat meringankan tugasku yang sehari-hari sangat sibuk di kantor.
Sedangkan aku hanya mengatur tentang kebutuhan anak-anak seperti biaya sekolah, biaya untuk keperluan pakaian makanan dan sebagainya serta untuk kebutuhan anak-anaku yang lainnya uang jajan dll.

Pada awal ketika anak-anak masih kecil , uang harian diberikan setiap hari, uang sekolah dsb diberikan tepat pada waktu akan membayar, seperti uang sekolah, uang buku, pendaftara ujian dll. Tetapi ketika anak-anak sudah di SMP uang keperluan mereka diberikan tiap bulan sekali dengan telah dirinci, berapa keperluan mereka, untuk uang sekolah dsb.
               Pada tahun 1984  uang untuk anak disesuaikan dengan kebutuhannya sbb:
1.Jemi dan Fatchiah masing-masing mendapat tiap bulan dibayar diawal bulan sbb :
   a.Uang sekolah                12.000,-
   b.Uang bensin                    6.000,-
   c.Uang makan                  20.000,-
   d.Uang lain-lain                  5.000,-
                                     ——————–
jumalah tiap orang menerima 43.000,-

      2.Zuchry.
        a. Uang Sekolah                  3.000,-
        b.Transport                         12.000,-
        c.Uang makan                     20.000,-
        d.Uang lain-lain                    5.000,-
                                     ———————
 Jumlah                                        40.000,-

 

        3.Uang keperluan bersama.

 

1. Uang Koran                            4.500,-
2.Uang Listerik /ledeng             15.000.-
3,Uang kebersihan, hansip dll      2,500,-
Anak-anak yang dua lagi Shally dan Rian ikut ke Palembang diberi hanya auang jajan, sekolah dll.

Setelah anak menjadi besar dan sekolahnya sudah di SMA dan perguruan tinggi, uang harian dan keperluan kecil telah diberikan dalm bentuk Diposito, dari bunga diposito itulah mereka dapat mengatur keperluannya. Begitu juga waktu anakku Fatchian sekolah di Salah 3 semua keperluan sehari-hari diambil dari uang diposito nya saja. Tetapi kalau uang kuliah dan uang semester dan yang besar-besar baru meminta kepada kami.
       Hal ini bisa memberikan kesempatan pada anak-anak untuk mengatur keuangannya sendiri sehingga bila telah berumah tangga nanti tidak akan canggung lagi dalam menglola keuangan keluarga.
        Pengawasan tentang kegiatan belajar mengajar, tetap saja ketat, baik melalu skolahnya atau meminta tiap kegiatan yang dilaksanakannya untuk diperlihatkan kepada kami, seperti raport, hasil ujian semester, dll serta menghubungi guru mereka tentang kegiatan belajar-anak.  

            Biaya keperluan anak-anak yanag disekolahkan di dalam negeri pada umumnya tidak kucatat secara rinci karena setiap kali dia butuh uang untuk biaya semesteran, uang kuliah selalu dibayar dengan uang cash berapa yang diminta oleh anak-anak sesuai dengan tagihan dari Universitas. Disamping itu kalau untuk keperluan harian anak-anak punya deposito sendiri-sendiri yang diberikan sesuai kebutuhannya. Contohnya Diposito untuk Fatchiah yang sekolah di Salatiga sampai dia menyeselaikan sekolahnya di Universitas Satiya Wacana masih bersisa Dipositonnya lebih dari Rp 7.000.000,- yang lalu ditukarkannya dengan US Dollar untuk keperluannya di Amerika nanti.

        Tetapi kalau biaya yang sekolah ke luar Negeri memang tercatat secara rinci karena uang itu dikirimkan melalui bank. Umpamanya untuk keperluan anakku Fatchiah yang sekolah di Amerika pengeluarannya adalah sbb :

1. 25/08/92.  Di bayarkan kepada PT Golden Rama Expres, cabang Bandung,
Braga Plaza Blok B. no 6. sebagai uang muka biaya pengurusan Study
di USA.  sebesar  ………………………  ……………………………US Dollars ;   .300.

2.31/08/92.Dibayar ke PT. Golden Rama Expres Banung untuk :
   a. hotel di Singapore, Le Meridian Changi Hotel     US$.   81.00                           
   b. Tiket Jkt-Sin-Lax-San-ow. H                                         698.92
                                                                                   ——————
      Jumlah                                                                            779.92                            779.92

3.03/09-92. Dibayar ke PT Golden Rama Expres Bandung untuk:
*** Biaya Pengurusan Study [English C] di USA.
Pendaftaran sekolah, akomodasi/ penjeputan/ visa student/ konsultasi  US $ 400.
*** DHL Fees SDSU krn kilat                                                                          30.
                                                                                                                ————–
                                                                   Jumlah                                           430.

 

Diposit                                                                                                              300.
                                                                                                                  ————-
                                                                   Jumlah                                           130.      130.
                                                                                                                          —————-
Jumlah 1s/d 3                                                                                                          1.109.92

4.Tgl 03/09-92 Penukaran uang yang akan di bawa ke USA.                      US.$. 3.000.
   ** Kurs pada waktu itu. 1 US$. = 2031,50 rp.                 

5.Tgl 14-01-93. Pengiriman uang pertama kepada:
  Fatchiah Kertamuda Citi Bank Ac 04000684890.
  College [o386] 6499 El Cajon Blvd Sandiago ca
   92115 USA.  Melalui Bank Danamond Bandung                                                5.000.

6.Tgl 28/04/93.Pengiriman uang kepada Fatchiah
melalui Bank Panin dengan alamat sama dgn no 5.
Kurs Dollar pada pengiriman 1 US $ = 2079,-rp
Uang yang dikirimkan sebesar                                                                      US.$ 4.500

7.Tgl 28/04/93. Pengiriman uang kepada Fatchiah
   melalui Bank Utama sebesar                                                                      US $.3.000.

8.Tgl 28/09/93. Pengiriman uang kepada Fatchiah
    melalui Bank BCA Bandung dengan aalamat:
    Fatchiah Kertamuda, City Bank  AC no 04000
   6848390, College [0386] 6499 El Cajon Blvd
   Sandiego CA 92115.  sebesar                                                                    US.$. 3000.
[Kurs pada waktu itu 1 US.$ 2105.60]

9.Tgl 17/01/94. Pengiriman uang kepada Fatchiah
Melalui Bank Utama, alamat sama, Sandiego Ca.
Kurs pada waktu pengiriman 1 Dollar = 2119 rp .                                        US.$.3000.

10.Tgl 04/04/94. Pengirman uang kepada Fatchiah
Melalui Bank Utama, alamat sama, Sandiego CA
Lurs pada waktu pengiriman 1 Dollar =2155 rp.                                          US.$ 3000.

11.Tgl 06/06/94. Pengirman uang kepada Fatchiah
Melalui Bank Utama, alamat Sulphur Spring State
Bank Commerce Branch 608025761 1633 Hwy 30,
Commerce Texas 75428, USA. kurs pada waktu
pengiriman 1 Dollar =2169 rp.                                                                      US.$ 5000.

12.Tgl 21/09/94. Pengirman uang kepada Fatchiah
Melalui Bank Utama, alamat Sulphur Spring State
Bank Commerce Branch 608025761 1633 Hwy 30,
Commerce Texas 75428, USA. kurs pada waktu
pengiriman 1 Dollar =2173 rp.                                                                      US.$ 5000.

13.Tgl 09/02/95. Pengirman uang kepada Fatchiah
Melalui Bank Utama, alamat Sulphur Spring State
Bank Commerce Branch 608025761 1633 Hwy 30,
Commerce Texas 75428, USA. kurs pada waktu
pengiriman 1 Dollar =2254.5 rp.                                                                      US.$ 5000.

14.Tgl 18/05/95. Pengirman uang kepada Fatchiah
Melalui Bank Utama, alamat Sulphur Spring State
Bank Commerce Branch 608025761 1633 Hwy 30,
Commerce Texas 75428, USA. kurs pada waktu
pengiriman 1 Dollar =2241 rp.                                                                      US.$ 3000.

15.Tgl 22/01/96. Pengirman uang kepada Fatchiah
Melalui Bank Utama, alamat Sulphur Spring State
Bank Commerce Branch 608025761 1633 Hwy 30,
Commerce Texas 75428, USA. kurs pada waktu
pengiriman 1 Dollar =2290 rp.                                                                      US.$ 2000.
——————————————————————————————————–
Jumlah uang yang dikirmkan selama Fatchiah di USA sebesar.                US.$.45.609.-
 Inilah yang tercatat pada pengiriman uang .

               Alhamdulillah anak-anaku semuanya telah dapat menyelesaikan sekolahnya minimal sampai Strata I [S-1]. Santi Maizah Kertamuda S-1 Hukum Perdata.
Achmad Azimi Kertamuda S-1 Ekonomi Manajemen; Fatchiah E.Kertamuda S-2 Bimbangan dan Conceling.; Marten Shalli S-1 Ekonomi Akutansi. ; Firtiansyah S-1 Teknik Elektro, dan D-III Komputer.
Alhamdulillah pula semua anak-anakku telah mendapat pekerjaan dan telah pula menikah dan mempunyai anak.
Tugas kami sebagai orang tua, hanya tinggal memantau dan mengawasi saja arah mereka agar berjalan sesuai dengan tuntunan Agama serta selamat dunia dan akherat.

         Memang setiap anak mempunyi kelebihan dan kekurangannya sendiri, tetapi kami selalu berlaku adil terhadap mereka. Kita tidak boleh menganak emaskan yang satu dan meng anak bawangkan yang lain. Kadang-kadang perkiraan kita meleset, kita menyangka bahwa anak ini yang akan lebih berbakti kepada orang tua dari pada yang yang itu; kenyataannya sebaliknya. Kita menganggap yang tadinya kurang berbakti, kurang patuh dsb, namun dalam kenyataannya bahkan yang kita duga negatif itulah yang sangat berbakti pada orang tua. Oleh sebab itu semua anak haruslah diperlakukan sama baik cinta kasih kita, maupun pembagian harta kita pada anak-anak harus adil. 
       Yang utama semua anak harus diberi pendidikan yang cukup dan baik, baik pengetahuan umum maupun pengetahuan agama. Karena dengan ilmu itulah anak-anak kita akan bisa hidup yang layak dan ilmu merupakan senjata untuk mencari segala-galanya.

        .Kepada Nabi Sulaiman ditawarkan oleh Allah , apakah mau Ilmu atau mau Kerajaan; Nabi Sulaiman memilih Ilmu, maka dia diberi Ilmu,…. Dengan ilmu itu dia mendapatkan Kerajaan. …Wa laqod atainaa Dawuda wa Sulaimana ‘ilma, wa qoola alhamdulillahi ladzii fadhdholanaa ‘alaa katsirin min ‘ibadihil mu’minin…” [an Namal:15]. = Dan sesungguhnya Kami telah memberikan Ilmu kepada Dawud dan Sulaiman; Dan keduanya mengucapkan: ”Alhamdulillah”, yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman…”.

       .Para Hukamaa’= [Orang-orang yang bijak] berkata: Kata ilmu itu terdiri dari tiga huruf yakni : ‘ain, laam, dan miim.
a.‘Ain singkatan dari kata “ ‘Illiyyin” = derajat yang tinggi.
b.Laam singkatan dari kata “Lathiif”.= halus, pemurah dan tenang.
c.Miim singkatan dari kata “ Mulkun”. = kerajaan.
       Maka huruf ‘ain bisa menyampaikan pemiliknya kepada derajat yang tinggi. Dan huruf Laam menjadikan pemiliknya halus, pemurah dan tenang. Sedangkan huruf Miim memungkinkan pemiliknya menjadi pemimpin, penguasa bagi para rakyat:.

       . Rasulullah Saw bersabda: ”Fadhlul ‘aalimi ‘alaal ‘abidi ka fadhdhlil qomari lailatal badri ‘alaa saa’irol kawakib. = “Keutamaan orang yang berilmu atas otang yang beribadah itu seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang yang lain”. [H.R.Abu Dawud, Tarmidzi, Nasai dan Ibnu Hibban.]

Dari uraian diatas jelaslah ilmu itu sangat penting dalam kehidupan manusia, dia adalah pintu dan kuci keberhasilan dan kemudahan.

 

One Response to “Bab VIII Pembinaan Keluarga”

  1. prih Says:

    saya aseli wingko tinumpuk dan pernah ke lahat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s