V. KEGIATAN DIBIDANG USAHA.

        

Bapak dan Usaha

 

  1.Mulai dari SR di Lahat aku telah mencoba untuk berniaga untuk mendapatkan uang sendiri untuk tambahan belanja dan keperluan lain-lainnya guna menunjang sekolah. Disamping itu apabila libur sekolah bekerja menakik para orang tua sendiri yang hasilnya 100 % untuk keperluan sendiri. Untuk menambah perbekalan kalau telah sekolah nanti di Lahat. Disamping itu untuk membeli pakaian yang disenangi dan makan yang disukai.

          2.Kegiatan ini berkembang setelah aku menyelesaipan pendidikan Akademi PTT, kami berkongsi dengan Asnawi Ahmad yang pegawai Kantor Pos pada Kantor Pos Besar Tegal yang aslinya berasal dari Bengkalis. Kami berdua mendirikan kegiatan usaha pengiriman barang-barang ke luar jawa melalu Pos seperti gula, rokok, batik dan lain lain ke pelbagai kota di sumatera pada umumnya. Seperti ke Lahat, Aceh , Palembang dan Tanjung karang. Usaha kami ini cukup maju dan melibatkan hampir semua karyawan rendahan di kantor Pos dan Telegrap Tegal, agar sama-sama dapat menikmati hasil usaha kami itu. Satu hari kami dapat mengirimkan gula ketempat-tempat di atas kadang-kadang 1 sampai 2 ton.    

         Kami membeli gula dari Pabrik Gula di Pangka Slawi maupun di Pabrik Gula Jatibarang. Kepala Kantor Pos Besar Tegal pun ikut menikmati hasil usaha kami tersebut. Usaha kami itu adalah legal dan menguntungkan perusahaan Pos dan Giro karena biaya paket dalam pengiriman barang tersebut sangat meningkat.
Karena usaha kami maju, maka kami mau merencanakan untuk membeli Hotel di Tegal,
tetapi sayangnya saya harus pindah ke Sungai gerong karena sudah cukup lama di Tegal serta mau ditingkatkan karierku oleh Perusaahaan.

          Maka usaha kamipun terpaksa dinomor duakan. Sebagian modal bagianku dikirimkan ke Sungai gerong berwujud pengiriman kain batik dan lainnya, akupun secara kecil-kecilan memulai lagi usaha menjualkan barang-barang kiriman dari Tegal kepada Relasi-relasi yang ada di Palembang, Lahat maupun ditempat tempat lain. Barang-barangku banyak dikreditkan oleh Raisah anak samin yang pada waktu itu tinggal di Kertapati, juga dibawa ke Lahat untuk dijual disana oleh kawan-kawan. Aku sendiri tidak bisa dengan sepenuh hati melaksanakan kegiatan usaha mengingat disamping tugasku sebagai Kepala kantor Pos baru, juga  pada sore harinya aku kuliah di Palembang. Jadi waktuku amatlah terbatas kecuali hari minggu dan hari libur.

         3.Ketika di Sungai Gerong. Sebagian kegiatan usaha tetap berjalan namun sudah tidak seperti waktu di Tegal karena kesibukanku menangani pekerjaan kantor dan Kuliah pada sore hari. Disamping itu usahaku tidaklah semulus waktu di Tegal, disamping pada waktu itu keadaan perekonomian negara sangat sulit, apalagi setelah terjadinya pemberontakan G-30-S PKI. Perokonomian morat marit, Nilai uang dari Rp 1000,- jadi Rp Rp 1,-
           Kalau hari minggu aku sering ke Palembang untuk mencari perangko seri yang lama-lama untuk kujual dengan awak-awak kapal yang datang mencari perangko seri. Keuntungannya cukup lumayan. Tetapi setelah aku pindah dari Sungai gerong perangko-perangko yang kubeli dan kukumpulkan selama di Sungai Gerong tidak lagi ada yang membelinya. Pada waktu Kisah ini kutulis aku masih menyimpan sejumlah perangko lama dengan seri yang lengkap dalam jumlah yang cukup banyak.
Kegiatan usahaku di Sungai gerong terhenti sama sekali setelah saya harus dipindahkan sementara ke Bengkulu demi kepentingan dinas. Setelah berdinas di Bengkulu selama 9 bulan aku dipindahkan ke Lahat.

      4. Setelah kepindahanku ke kota Lahat, aku mulai  merintis lagi usaha bersama Mustofa salah seorang karyawan Pos dan Giro di Lahat. Kami memulai usaha kami dengan modal 6 karung beras.. Beras tersebut kami jual kepada para pensiuan dan pegawai  dengan pembayaran pada akhir bulan. Usaha-kami makin lama makin menampakkan kemajuan dan berkembang. Mula-mula kamu menyewa jongkok di pasar baru dekat Masjid Muhammadiyah. Setelah usaha kami maju kami membeli sebuah toko dekat Stasiun Lahat.

       Karena kebutuhan para konsumen makin meningkat, apalagi pegawai Pemda telah meminta agar bisa belanja di tempat kami dan pembayarannya dilakukan habis bulan. Lalu kami membeli sebuah toko dijalan stasiun dekat simpang 3,  dengan Ibu Nuraini isteri Abdul Majid. Sejak kami bertoko disana usaha kami bertambah maju, kami khusus memperkerja pegawai untuk melayani konsumen kami. Kami yakni aku dan mustofa kalau sore hari sehabis dinas mengawasinya saja serta memberikan arahan-arahan tertentu kepada para pegawai kami. Bermacam barang yang kami jual , mulai dari 9 bahan pokok sampai pada Radio, dan kebutuhan bahan bangunan seperti semen, seng dll. Caranya para pembeli tidak langsung mengambil barang dari toko kami tetapi cukup membawa nota kami saja khusus bagi barang yang tida tersedia di toko kami. Umpamanya kalau Koperasi
Pemda membutuhkan 5 ton beras untuk karyawannya, kami membuat nota kepada toko “Kita” yang terketak didepan BANK Rakyat di jalan Kikim yang telah menjadi mintra dagang kami.  Toko “Kita “ Itulah yang mengirimkan beras itu ke Pemda. Begitu juga dengan yang perlu semen, kami  membuat nota kepada Toko semen dan toko itulah yang mengirimkan barang yang diperlukan kepada pemesan. Toko-toko tersebut tinggal menagih kepada kami dengan menunjukkan nota tadi kepada kami.

         Usaha dagang adalah suatu kepercayaan, apabila orang telah percaya maka usaha perdagangan akan mudah dan sebaliknya bila orang tidak percaya pada kita maka semua gerak dan langkah kita akan sangat sulit. Oleh sebab itu bila kita mau membuka usaha haruslah dipelihara kepercayaan masyarakat konsumen dan masyarakat produsen barang. Hindari tindakan ingkar janji dan tepatilah apa yang kita katakan dan bila memang idak mungkin dilaksanakan, datanglah dengan baik-baik dan kemukakan kepadanya alasan alas an sebab-sebabnya kita tidak dapat dilaksakan tepat pada waktunya. Semboyan pedagang ialah : “Kepercayaan adalah modal utama untuk majunya sesuatu usaha”.      Jagalah kepercayaan konsumen, jagalah kwalitas barang dagangan kita, jagalah janji kita.

            Dari hasil usaha kami berdua di Lahat ini, kami bisa membangun rumah masing-masing di Lahat . Aku membangun rumah di Jalan PGAA sedang mustofa membangun rumah di jalan  Letna marzuki no l00.
Setelah itu kami pun membeli tanah di Palembang dan membangun sebuah rumah disana.
Toko dan rumah-rumah di Lahat semuanya masih ada pada waktu kisah ini kubuat. Sedang rumah yang dimiliki bersama di Palembang di Jalan Cipto dalam no 537 sudah kami jual dengan Arifin pada tanggal 8 Mei 2006.

            Kanda mustofa memanfaatkan uang penjualan itu untuk naik haji dengan uang tersebut sedang aku dengan isteri memanfaat uang itu untuk tambahan belanja bulanan yang makin meningkat karena pensiun kami tidak mencukupi lagi, kami hanya menerima uang pensiun hanya Rp 1.000.000,- perbulan. Pada hal pengeluaran tiap bulan berkisar 1.450.000,- Untuk pembayaran listerik, telepon, PDAM, dan iuran RT /RW dll disamping harga-harga terus meningkat. Sehingga untuk keperluan makan makin sedikit. Tetapi dengan penjualan rumah tersebut alhamdulillah kehidupan kami normal kembali seperti masih bekerja dulu.

5.Kisah bidang usaha ini sebenarnya secara selintas telah kusingung pada Bab V, khusunya pada waktu aku bertempat tinggal di Tegal; di Sungai Gerong; Lahat; Palembang dan di Bandung.

7.Ketika aku bertugas di Palembang untuk kedua kalinya, hampir tidak ada kegiatan usaha yang aku lakukan mengingat aku adalah seorang Pejabat yang  memegang jabatan penting dan sibuk;  pada waktu itu para pejabat yang memangku jabatan penting tidak diizinkan untuk membuka usaha atau berniaga.

8.Ketika aku bertugas di Semarang sama halnya dengan pada waktu aku bertugas di Palembang ke –II, karena aku di Semarang ditunjuk sebagai Kepala Daerah Pos dan Giro II oleh sebab itu tidak memungkinkan untuk membuka sesuatu usaha.

 

9.Ketika pindah ke Bandung lagi untuk ketiga kalinya setelah aku selesai bertugas  Semarang sampai aku bebas tugas menjelang pensiun; akupun tidak boleh membuka usaha, karena aku ditunjuk sebagai kepala Sub Direktorat Jasa Pos dan kemudian menjadi kepala Pusat Pendidikan dan Latihan Perum Pos dan giro. Semua kegiatan usaha tidak mungkin aku lakukan.
Baru setelah aku pensiun usaha dagangku kumulai lagi.

        Sebelum aku pensiun aku telah merintis untuk membuka usaha. Aku membeli sebuah rumah di Sanggar Hurip SK V no 6 , pada waktu pembangunan rumah itu aku telah usahakan agar bentuknya tepat untuk tempat usaha. 2 Tahun lagi aku pensiun aku telah membuka sebuah warung kecil yang diurus pembantu rumah tanggaku yang bernama Tukul dari Jawa Tengah. Dia yang mengurus segala usaha itu. Usaha itu dimulai dengan menempati garasi mobil dulu.

        Kegiatan Usahaku setelah pensiun ketekuni dengan baik dan sungguh-sungguh hingga anakku yang bungsu selesai sekolahnya di Maranata. Setelah anakku yang bungsu Fitriyansyah Kertamuda tamat dan bekerja aku undur diri dari segala  kegiatan mencari uang . Kami berdua hanya menikmati tabungan hasil usaha yang telah kami kumpulkan selama berpuluh-puluh  tahun sebelumnya. Dan perhatian kami saat ini kami  tujukan untuk mencari bekal menuju kampung akherat nanti.

                      ————————***————————–

 

2 Responses to “Bab VI Bidang Usaha”

  1. iplogodesign Says:

    wui, usaha yang menarik dan sangat serius ya ngejalaninnya, salut, sukses dan salam kenal yah dari poe. semoga mau ngunjungin web poe juga di sini http://iplogodesign.com/, kebetulan poe juga baru aja busa usaha desain


  2. Terimakasih “Iplogodesign”, semoga sukses , dan selamat buat poe yang baru buka usaha desain.
    H.Abbas AH Kertamuda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s