VIII. Detasir ke Bengkulu selama kurang lebih 9 bulan
[1966-1967].

Sewaktu aku ke detasir ke Bengkulu dari kantor Pos Sungai gerong. Anakku Achmad Azimi Kertamuda pada waktu baru berusia kurang lebih satu tahun, sedang lucu-lucunya. Keadaan memang salat sulit baik mengenai keamanan, penvhidupan masyarakat dll.
Pada waktu aku sedang bertugas di Sungai Gerong aku ditugaskan untuk menyelesaikan kekusutan Kantor Pos Bengkulu akibat Pimpinan kantornya terlibat G.30.S serta penggantinya kurang menguasi adminitrasi keuangan hinggal lebih dari 6 bulan buku Kas C dan buku-buku pembantunya tidak diisi.
Tugasku ialah untuk membereskan administrasi keuangan tersebut. Dan mengambil bendel-bendel yang ditahan oleh Kejaksaan.
Di Bengkulah pada saat ini masih Kabupaten yang sangat sepi dan jaringan jalannya rusak berat baik dalam kota Bengkulu terlebih lebih lagi ke luar kota. Dari Bengkulu ke Manna yang jaraknya kurang lebih 140 Km jika ditempuh dengn mobil memakan waktu selama satu minggu. Mobilnya pun harus mobil yang sanggup menjelajahi jalan yang rusak berat seperti mobil Power yang mempunyai double Gardan serta memang disiapkan alat-alat penolongnya seperti rantai dan derek.

Suasana jalan raya telah terbentuk seperti rel yang memuat roda mobil dan tidak perlu lagi untuk menggunakan stir karena ban telah menelusuri lobang jalan yang telah ada.
Dikota Bengkulu pada waktu itu hanya ada 5 mobil yakni mobil Komanda Kodim, mobil Dan Res Kepolisian , mobil kepala Bank BRI dan pengusaha angkutan.
Untuk hiburan bagi masyarakat kota Bengkulu hanya tersedia panggung sandiwara yang bernama Nilawaty. Sedang bioskop sama sekali tidak ada.
Selama aku tinggal di Bengkulu aku memperoleh banyak teman yang senasib sepenanggungan seperti Dr.Imran Chatib yang wakyu itu menjadi Dr. di Rumah sakit Bengkulu. Kami selalu kalau jum’at bersama ke Masjid untuk melaksanakan sholat jum’at di masjid Muhammadiyah. Aku juga bertemu dengan kawan lamaku yakni Suratno, pada waktu itu dia menjadi Kepala Cabang BRI Bengkulu, dia berasal dari Klaten Jawa Tengah. Pak Suratno ini pada awal tahun 1957 pernah mengikuti pendidikan Akademi Pos seangkatan dengan saya. Tetapi setelah kwartal pertama dia menjatuhkan diri karena akan mengikuti pendidikan di Bank. Terakhir aku bertemu dengan dia di Semarang ketika aku menjadi Kepada Daerah Pos dan Giro II di Semarang dan dia menjadi Kepala Inspeksi BRI Jawa Tengah.
Aku juga berkawan baik dengan seorang Hakim bernama Soelaiman SH. yang pada waktu itu bertugas di Pengadilan Bengkulu. Kami pendatang yang senasib bertugas di Bengkulu pada waktu ini kalau libur minggu selalu mencari tempat-tempat rekriasi baik dalam kota maupun ke luar kota bengku .Dan kadang-kadang kami diajak oleh Komandan Kodim untuk berpiknik bersama sambil makan-makan ditepi pantai pasir putih di Bengkulu.
Waktu itu Komanda Kodimnya orang Pagar Alam yakni Bapak Letkol Syamsul Bahri yang terkenal dengan panggilan Pak Tatung, sedang Kasi I –nya dijabat oleh Letnan satu A.Rivai dari Karang Dalam Lahat, Hal ini memang sangat memudahkan tugasku dalam menyelesaikan kemelut pegawai Kantorpos yang terkena indikasi terlihbat G-30-S, yang setiap harinya harus melapor ke kantor Kodim Bengkulu..
Pada waktu aku berdinas di Bengkulu aku menghuni Rumah dinas yang terletak di belakang Kantor Pos Bengkulu yang tidak terlalu jauh dari Tugu Rafles yang ada terletak disimpang empat didepan Kantor Pos dan Telegrap Bengkulu..
Bangunan Kantor Pos dan Rumah dinas Bengkulu itu menurut keterangan masyarakat disana, dulunya adalah rumah sakit besar yang dibangun oleh Penjajah Inggeris pada waktu Bengkulu masih berada dibawah kekuasaannya.Tetapi setelah Bengkulu dipertukarkan dengan Singarapura, oleh Penjajah Inggris dengan Pemerintah Hindia Belanda, maka Bengkulu dibawah penjajahan Belanda. Bangunan Rumah sakit dan lain-lainnya dipindahkan kelain tempat dan tempat itu dibangun gedung Kantor Pos, karena letaknya sangat strategis.

Menurut cerita pula tepat ditempat dibangunnya rumah dinas itu dulunya adalah kamar mati dari rumah sakit Ianggris tersebut. Aku sering sekali bermimpi pada waktu menunggu rumah dinas tersebut. Untungnya aku selalu bermimpi yang menyenangkan dan bukan yang menyeramkan, umpamnya bermimpi bermain tennis dengan gadis-gadis china, gadis-gadis boleh, berenang dikolam renang dengan gadis-gadis cina dan gadis Barat.
Pernah sekali aku bermimpi diajak oleh seorang gadis cina ke Jakarta. Kami berangkat dari Bengkulu berkendaraan mobil dan sampai di Lubuk linggau kami menuju Prabumulih dengan kereta api , selanjutnya kami bermaksud dari Prabumulih meneruskan perjalanan ke Tanjung Karang, lalu menuju ke jakarta.. Pada waktu kami mau pindah kereta di Prabumulih aku terbangun. Dan kemudian aku tertidur lagi, mimpiku bersambung; aku tidak jadi berangkat ke Jakarta, karena takut meninggalkan tugasku sebagai Kepala Kantor Pos Bengkulu , tetapi gadis cina itu tetap meneruskan perjalannya, setelah dia kuantar kedalam gerbong kereta yang akan membawanya ke Tanjung Karang, lalu ia kutinggalkan dan aku naik kereta lagi yang akan membawaku ke Lubuk Linggau. Kemudian aku terbangun lagi dan akupun merasa merinding setelah bangun yang kedua kalinya.

Pada waktu akan berangkat ke Bengkulu aku disuruh naik pesawat Dakota yang sudah cukup tua usianya, setelah satu jam kami terbang terbanng salah satu baling-balingnya tidak jalan, sehingga kami harus kembali lagi ke Palembang. Kami kembali ke Palembang dengan menelusuri diatas sungai, akhirnya kami selamat mendarat kembali di Bandara Talang Betutu Palembang, walaupun seluruh penumpang termasuk awak pesawat telah mulai panik. Pada waktu itulah aku trauma naik pesawat.
Selanjutnya aku berangkat ke Bengkulu esok harinya dengan menggunakan Kereta Api. Ke Lubuk linggau kemudian meneruskan perjalan dengan bis ke Bengkulu. Perjalan dengan bis dari Lubuk linggau ke Bengkulu ditempuh 2 hari semalam, karena jalan rusak berat. Jalan yang rusak berat mulai memasuki Kepahyang sampai ke Bengkulu.Baru berjalan beberapa ratus meter kamipun harus turun dan menunggu kendaraan yang lain untuk saling bantu membantu.
Setelah tugasku kubereskan di Kantor Pos Bengkulu, aku kembali lagi ke Sungai Gerong. aku bertugas di Bengkulu kurang lebih sembilan bulan.

 

3 Responses to “8. Bengkulu”

  1. radje Says:

    Assalamualaikum ning.
    Aku radje, jeme lahat. sandi SD sampai SMP sekulah di lahat, mak ini aku begawi di Manna prov Bengkulu.
    Kalu aku mbace pengalaman nining di Bengkulu, pacak dibayangkan betapa terisolirnye bengkulu waktu itu karena ndak ke Manna saje butuh waktu seminggu. Tapi mak ini dide agi ning, bengkulu lah banyak berubah. Anye kantor pos badah nining tinggal dulu masih luk itulah dide banyak beghubah. Terus dari Bengkulu ke Manna cukup waktu 2,5 jam bemobil atau bemotor. Kalu nining ndak keruan perkembangan bengkulu nining buka web http://www.bengkuluekspress.com.

    Wassalam


  2. Untuk Cucunda Radje.
    Di Bengkulu.
    Assalamu’alaikum Wr.Wb.
    Terimakasih cunda Radje telah singgah di pondok nining “Website The 8th Generations of Kertamuda” untuk bersilaturahmi, semuga cucunda akan selalu sukses dalam pekerjaannya serta selalu sehat wal ‘afiat.
    Syukurlah kalau Cunda Radje begawi di Manna Bengkulu. Mungkin mbak ini aghi jalan dari Manna ke Tanjung sakti lah elok dan be-aspal Hotmik pule, sebab tahun 85 saje jalan itu lah pajak diliwati pakai mobil biase. Waktu nining betugas di Palembang tahun 1984 s/d tahun 1986. kalu nining ke Manna liwat jalan itu dide liwat Bengkulu lagi. Tapi kalu tahun 1966- 67 jalan-jalan di Daerah Bengkulu memang sangat parah bukan saje di Manna tapi di Bengkulupun same. Batang kayu ye besak-besak masih bejejer di pinggir jalan khususnya diderah pasar minggu, seram kalau malam . Tapi sepanjang jalan dari Bengkulu ke Tabah penanjung kalu musim buah-buahan banyak nian dehian ye empai umban, hargenya murah dan rasenye enak.
    Syukurlah kalu mbak ini akhi dari Bengkulu ke Manna hanya 2,5 jam yang jaraknya kurang lebih 140 Km. Terakhir aku ke Bengkulu tahun 1986. Waktu itu mendampingi Menteri Parpostel meninjau Pelabuhan Laut Pulau Baai , serta meresmikan kantor Pos Bengkulu ye Baru serta kami terus mengadakan peninjawan ke Kuro Tidur.
    Nining dide ka lupe ngan Bengkulu karena banyak pengalaman yang mengesankan waktu tinggal di Bengkulu dulu. Hiburan hanya satu-satunya ialah yang ada di Bengkulu waktu itu yaitu sandiwara “Nila Kandi” yang masih lagu-lagu melayu yang klasik. Bioskoppun tidak ada.
    Alhamdulillah sekarang Bengkulu Kota Provinsi yang cukup maju dan berkembang pesat. Hidup Bengkulu maju terus; Pak Uncu mak Uncu selamat menikmati kota Bengkulu yang modern dan indah sekarang ini.
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
    Nining lanang di Bandung.

  3. Radje Says:

    Assalamualaikum Wr.Wb ning.
    Aku juga beterimekasih ning, nining nyempatkah waktu mbalas surat aku. Au ning perkembangan Bengkulu pesat, anye tuape kalu kate jeme yang mpai tinggal di Bengkulu, daerahnye merupakan paling timur yang ade di barat. Sebabnya, provinsi Bengkulu paling tertinggal dibanding provinsi lain yanng ade di Sumatera same dengan provinsi di daerah timur.
    Klu jalan sandi Pagar Alam ke Manna, masih karut ning, mpuk hotmik anye lah ancur gale tuape dide diilukkah dengan pemerintah. Klu aku bemotor masih lemak ning, kerne kalu aku balik ke lahat lewat wan jalan tanjung sakti.
    Udemtu di daerah Tabah Penanjung masih banyak dehian ning apelagi kalu musim. Bejejer di pinggir jalan jeme bejualan dehian masak. Jalannya mak ini lah alap nian ning.
    Ade salam sandi pak uncu dengan mak Uncu ning, katenya sihat gale jeme di bengkulu ning.

    Wassalam
    cucung nining

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s