III. Pindah ke Kota Yogyakarta. [1953-1956].

Saya berangkat dari Lahat ke Jawa bersama M.Ali , budak dusun Muara Lawai dusun Besak, dan Ayub Abadilah Sohar. Pada waktu itu hubungan hanya menggunakan Kereta api. Seminggu sebelum berangkat kami telah memesan karcis untuk ke Jawa, karcis Lahat ke Tanah Abang. Berangkat dari Lahat pagi hari menuju Prabu Mulih dan di Prabu Mulih Gerbong ke Jawa digandengkan dengan kereta dari Palembang –Tanjung karang. Dari tanjungkarang terus ke Pnjang dan selanjutnya menyeberang dari Panjang ke Merak. Perjalan kapal pada waktu itu malam hari dari Panjang. Saampai di Merak pagi hari. Kami meneruskan perjalanan ke menuju Tanah Abang dari Merak. Perjalan ini cukup melelahkan. Sampai di Tanah abang sudah sore Hari. Kami berpisah dengan Ayub Abadilah Sohar karena mau melanjutkan sekolah ke Sukabumi sedang kami mau ke Yogyakarta.
Dari Tanah abang kami naik becak menuju Setasiun Gambir, Tiba di Gambir sudah jam 19.00. Kami menginap di rumah pegawai PJKA dengan membayar alakadarnya dan dia pula mengurus segala keperluan kami untuk melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta besok paginya. Kurang lebih jam 4.30 pagi kami telah diantar keatas kereta oleh pegawai PJKA dan kereta api berangkat ke Yogyakarta jam 05.00 pagi.
Samapai di Yogyakarta kurang lebih jam 19.00, kami telah di jempu oleh Gozhali budak Merlawai dusun Besar yang telah lebih dahulu ke Yogyakarta tahun Lalu. Dia Sekolah di SMEA di Gowongan Lor.
Lalu kami menginap ditempat kostnya, kebetulan tempat kosnya masih menerima kost untuk kami berdua. Tempatnya di Jetis utara tugu.

Sebelum berangkat ke Jawa ayah/ibu telah membekali uang sebesar Rp 360,- uang itu harus cukup untuk biaya perjalanan dan biaya kost selama 3 bulan. Bulan ke IV baru dapat kiriman. Memang kos di Yogya kala itu hanya rp 85 rupiah per bulan, makan, cucian, semua diurus oleh tempat kost. Yang hanya kami perlukan hanya beli sabun sikat dan urusan pribadi lainnya.

Setelah beristirahat sehari di tempat kost, baru keesokan harinya kami mencari tempat sekolah masing-masing, tentunya dengan berjalan kaki, sebab sepeda belum ada, angkotpun tidak ada yang ada hanyalah becak saja. Saya mencari untuk masuk SMA/B. Dan Muhamad Ali mau masuk sekolah Swasta SMA/A karena dia tidak lulus Ujian aklhir SMP.[ Terakhir saya berjumpa dengan M.Ali di Palembang tahun 1985 waktu aku jadi Kdpos IV Palembang dia pegawa sipil di Kodam]. Saya tidak bisa masuk SMA/B Negeri di Yogyakarta, karena Rayon untuk Sumatera ada di Jakarta. Jadi kalau mau masuk sekolah negeri SMA B harus kembali lagi ke Jakarta. Diluar Rayon yang boleh masuk ke Negeri hanya sekolah kejuruan seperti SMEA.

 

Oleh sebab itu aku menghadap Kepala Sekolah SMA College de Brito jalan Bintaran Kulon Yogyakarta. Pada waktu itu sekolah itu sangat terkenal dan bermotu tinggi. Kelulusannya mengalah sekolah negeri. Aku mau masuk SMA/B di College de Brito, tapi Direktur .Sekolahnya mengatakan Nee..nee..neee sudah penuh, maklumlah kepala sekolahnya masih orang belanda, bahasanya pun masih campuran antara belanda dan Indonesia.Direkturnya adalah Romo Van der Mullen .Sedang Romo Yueken adalah Wali kelas kami. Akhirnya aku diterima di SMA/C di Collece de Berito tsb.

Kesan selama belajar di SMA Yogyakarta.
.Karena tempat kostnya ada di Jetis sedang sekolah berada di Bintaran Kulon yang jaraknya lebih dari dua setengah kilometer, maka pagi-pagi jam 06,15 telah berangkat jalan kaki menelusuri sepanjang Malioboro terus menenelurusi jalan panjang menuju Bintaran, sampai di sekolah pas lonceng masuk berbuny; menandakan hari sudah jam 07.30 pagi. Kadang-kadang aku sampai ke sekolah kurang 5 menit lagi masuk. Begitu pula waktu pulangnya. Sekolah bubar jam 13.00 sampai dirumah setelah makan siang pas penutupan Radio tengah hari jam 1430. Oleh sebab itu hingga saat ini kalau mendengar penutupan radio R.R.I terkenng pulang dari sekolah. Karena tiap hari sekolah jalan kaki, maka tiap 2 bulan aku harus ngesol sepatu , disamping itu dipasangi pula paku sepatu agar kulit bawah sepatu8 tidak mudah aus. Sepatu hanya sepasang, sedangkan pakaian sekolah hanya ada 3 setel. Pakian pada waktu itu masih bebas, belum ada pakaian seragam.
Saya tinggal di Jetis kurang lebih 8 bulan dan selanjutnya aku pindah ke Asrama Yayasan Batang Hari sembilan yang disediakan oleh Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan. Asrama itu terletak di Suryodiningratan diseblah kidul Beteng dekat minggiran.
Di Asrama ini kami berkumpul dengan keluarga dari sumatera selatan antara lain Rusdi Cosim, Abdullah dari pasar lama Lahat, Thamrin Koni dari Epil Sekayu, Cordia Cossim Rusli dan adiknya dari Sekayu dan banyak lagi.
Asrama ini tidak sejauh waktu tinggal di Jetis ; kurang lebih satu setengah Km dari Bintaran Kulon tempatku sekolah. Disamping itu saya telah membeli sepeda secand merk Reliegh dengan harga 400 rupiah, sehingga hubungan kemana-mana mudah. Pada waktu sepeda merupakan kendaran utama di Yiogya dan sekitarnya. Amat jarang orang menggunakan sepeda motor atau apalagi mobil.

Hampir tiap 2 minggu sekali kami mencari hiburan dengan mengendarai sepeda menelusuri jalan dalam dan luar kota yogya seperti ke Bantul, Seleman dan Prambanan. Bahkan kami pernah ke Solo lewat klaten pakai sepeda yang jarak Yogya solo kurang lebih 6 0 km. Pulangnya kami menggunakan kereta api dari solo, tanpa bayar karena naik di gerbong barang.
Pelajaranku berjalan amat mulus dan lancar tidak ada halangan. Tapi pada awal-awal pelajaran kls I memang sangat sulit untuk menyesuaikan diri dengan suasana kota Besar Yogyakarta. Karena kami berasal dari sekolah di kota Lahat kecil yang pelajarannya sangat jauh ketinggalan jika dibbandinghkan dengan sekolah-sekolah di jawa terutam bidang bahasa, Ilmu pasti dan pengetahuan umum lainnya.
Setelah mendekati naik kls III saya dengan Thambrin Koni pindah dari Asrama, karena suasana asrma selalu ramai jadi sulit untuk berkonsentrasi belajar. Kami berdua pindah ke Bausasran alamatnya DN 6/129. [DN = Dabu Rejan].Tidak jauha dari tempatku sekolah hanya 15 menit kalau berjalan kaki. Rumahnya sederhana sekali terdiri dari dinding gedek dan dipan sederhana,terletak ditengah kampung dan dihubungkan oleh gang-gang; tapi kami merasa sangat senang karena untuk belajar paling cocok karena terletak ditengah kampung, bukan dipinggir jalan raya. Tapi jalan-jalan masuk sangat teratur..Ditempat kos inilah banyak kenangan remajaku selama di yogya karena, setiap minggu para pelajar SMA dari berbagai sekolah ikut belajar bersama dirumah kostku. Kebenaran saya waktu itu sangat menguasa Tata buku yang pada waktu sangat sulit mencari guru list.dan sangat menguasai pelajaran Sejarah dunia dan sejarah Perekonomian Sebab saya sangat getol dalam belajar. Saya ditunjuk menjadi mentor dan kami belajar bersama terutama mengenai pelajaran tata buku khususnya neraca lajur dll.
Semangat belajar sangat menggebu-gebu karena dalam tahun itu kami harus menempuh ujian akhir SMA. Mulai dari kwaltal pertama kls III, buku itu sudah sulit lepas ditangan, kemana-mana hampir selalu membawa buku . Diatur sedemikian rupa tiah hari harus membaca sekian buku dan sekian mata pelajaran.. Oleh sebab itulah maka pada waktu ujian akhir tidak ayal mendapat angka yang sangat dipuji oleh para guru di College de Brito. Kecuali Bahasa Inggri. Bahasa Inggrisku memang lemah disamping memang aku kurang mudah menangkap bahasa dilalah ditambah lagi dengan adanya dendam tersendiri antara aku dengan Guru Bahasa Inggrisku yang bernama Hendro, karena masalah diluar sekolah. Dia kalah dalam persaingan dalam pergaulan. Pernah pada suatu hari dia melihat aku dengan kawanku menonton bioskop di Soboharsono, kebetulan dipun menonton dengan adiknya. Dia heran sekali melihat aku menonto dengan kawanku itu. Pada esok harinya di bertanya dan marah padaku mengaapa kamu menongton dengan dia??. Kujawab dia yang mengajakku menonton dan dia pula yang mentraktirku menonton bukan aku. Lalu pak Hendro terdiam, sambil menggerutu dan dendam.

Setelah ada berita hasil ujian diumumkan, saya menghadap kepala sekolah di College de Brito, dia menawarkan 2 solusi. Mau mengajar SMP di Lombok yang dikelola oleh sekolah Katholic tentunya? Atau mau meneruskan kuliah. Setelah kujelaskan bahwa aku mau melanjutkan Sekolah pada PTPG [Perguruan Tinggi Pendidikan Guru], yang waktu itu baru tahun kedua di buka di Yogyakarta Sekolah Guru. maka Romo Vander Mullen menjelaskan, biarlah kami semua yang menguruskan pendapaftarannya, pokoknya saudara sudah pasti diterima disekolah tersebut. Ini penghargaan dari sekolah karena kamu mendapatkan angka yang baik.

 

Pada waktu itu SMA/C College de Brito lulus 85 % sedang SMA/C Negeri hanya lulus 65 % saja. Aku lulus urutan 2 dari seluruh sekolah di Yogyakarta..
Setelah ada kepastian itu maka aku mohon diri dengan Romo Vander Mullen untuk pulang ke Sumatera yang selama 3 tahun saya tidak pulang ke Lahat sejak menginjakkan kaki ke Yogyakarta. Sebab Ayahanda H.Abdullah menjelaskan , kalau belum lulus SMA jangan pulang ke Lahat , sebab kalau pulang mungkin tidak akan melanjutkan sekolah lagi. Pesan ini kupegang teguh. Setelah tanda kelulusan berada ditanganku maka aku berani untuk pulang ke Lahat, dan akan kutunjukkan kepada orang tuaku bahwa aku bukan main-main sekolah di Yogya ini.
Setelah liburan kurang lebih 3 minggu di Lahat, dimana orang tua dan kakak serta adik merasa bangga saya kembali ke Yogya untuk meneruskan sekolah ke PTPG Sanata Dharma.
Disamping sekolah sayapun telah mengajar di SMA Wates yakni SMA Diponegoro mengajar sejarah Perekonomian. Saya telah menyusun sendiri diktat Sejarah perekonomian itu untuk diajarkan di SMA Diponego tersebut.
Lumayan dapat tambahan uang saku, dan di PTPG Sanatha dharma saya mendapat uang ikatan dinas sebesar Rp 162,- per bulan. Jadi pada waktu melajutkan sekolah di Perguruan tinggi saya sudah tidak minta kirimi uang lagi dengan orang tua.
Aku diterima sebagai Mahasiswa PTPG Sanata Dharma jalan Sindoro no 15 dengan surat Yayasan PTPG tangal 21 Agustus 1956. Dan mulai masuk kulia tangal 12 September 1956.
Setelah kembali dari Lahat untuk meneruskan Kuliah diYogyakarta, saya dengan Thamrin pindah rumah dari Bausaran DN 6/129 ke Margangsan MG 2/181 Yogyakarta.
Kami telah kulia di PTPG Sanata Dharma; sangat aktif sebagai mahasiswa, hampir setiap waktu mengadakan diskusi di tempat saya kost setelah habis kuliah. Banyak yang datang untuk mengadakan diskusi antara lain ialah I.Nyoman Sukite dan I.Nyoman kartini dari bali dan yang lain-lain.
Sore hari sehabis kuliah, tiga hari dalam seminggu saya pergi ke Wates dengan naik bis untuk mengajar di SMA Diponegoro sorenya pulang ke Yogyakarta [ di lajo].
Kebanyakan murid-murid di SMA Diponegoro itu adalah sudah bekerja, dan banyak guru-guru Sd yang telah menamatkan SGB.
Kebanyakan guru-gurunya dari Yogyakarta, kawan yang bersama menjadi guru di SMA Diponegoro Wates tersebut ialah Moh.Agun dari Kikim yang terakhir sebagi Jaksa tinggi di Tanjung karang..
Pada bulan Agustus tahun l956 aku membaca pengumuman berwujud iklan di harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta, yang menjelaskan ada penerimaan Mahasiswa yang berikatan dinas dari Jawatan PTT Bandung. Yang dipilih untuk orang-orang yang memang pintar serta pilihan, karena sekolahnyalnya sulit. Aku mencoba melamar dengan memenuhi semua syarat yang dimintanya. Pada tanggal 31 Agustus aku mendapat jawaban bahwa Surat lamaranku telah diterima dan pada waktunya akan diuji dan nomor pendaftaran 491. Pada tanggal 30 Oktober 1956 aku mendapat panggilan untuk ujian tahap pertama Bahwa aku diminta untuk agar datang di Klitren Kidul 5 Yogyakarta guna menempuh ujian yang akan diselenggarakan pada hari Sabtu tanggal 1 Desember 1956 jam 08.00 dengan membawa Ijazah SMA asli dll. Ujian ini merpakan ujian tahap pertama.

Seminggu sesudah itu akupun mendapat panggilan untuk ujian tahap kedua di Bandung karena ujian Tahap pertama di Yogyakarta telah dinyatakan lulus.

Selama aku tinggal di Yogyakarta untuk melanjutkan sekolah di Sma aku telah menghabiskan uang untuk keperluan selama itu sebesar Rp 10.725 dan ketika pulang kekampung setelah tamat SMA sebesar Rp 957, ini termasuk untuk ongkos kembali ke Yogyakarta. – Jadi semuauang yang kuhabiskan untuk sekolah SMA di Yogya dan kembali lagi kuliah disana berjumlah 11.672,-
Perincian uang yang kuterima:
1] Dikirim oleh Ayah dan Ibu dengan weselpos sebesar Rp 10.520,-
2].H.Muhammad Rp 182,-
3].H.Hasan. Rp 37,-
4].Muchtar. Rp 25,-
Jumlah ——————————
Rp 10.725,-
Perincian pada waktu pulang ke Kampung 31-7-1957 s/d 13/8-1956 sbb:
1]Dari Ayah ibu termasuk untuk pulang ke Yogyakarta dan selam di Lahat Rp 725.
2]Dari H.Muhammad 192,-
3].Dari Mukhtar 30,-
4].Dari Muhammad Nur. 25,-
Jumlah semua…………………………………——————————-
972,-

Selama aku kuliah di PTPG Yogya aku menghabiskan uang mulai bulan september 1956 s/d desember 1956 sebesar Rp 1200,-. Setelah itu aku mulai kuliah di Bandung dan sebelum ke Bandung pada tanggal 12-12-1956 aku menerima uang dari PTT sebesar Rp 80,- untuk ongkos jalan Yogya-Bandung. Tetapi pada pada waktu aku di bandung akupun masih medapat kiriman uang dari Ibu tanggal 26/12 sebesar Rp 300,- dan oleh kanda H.Muhammad Rp 50,-.
Pada tanggal 11/2-1957 akupun mendapat kiriman uang lagi sebesar Rp 150m- dari ibu Bulan maret Rp 300,- Bulan april Rp 300,-
Setelah itu aku minta untuk tidak dikirimi lagi karena uang saku telah cukup.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s